Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 1

 


Selama tiga puluh tahun Teologi Sistematika, karangan Dr. Thies­

sen, telah dipakai sebagai buku acuan standar di berbagai sekolah 

Alkitab, perguruan tinggi, dan seminari di Amerika Serikat dan di 

negara-negara lain yang berbahasa Inggris. Tak pelak lagi, buku ini 

telah diterima di mana-mana oleh karena Dr. Thiessen dengan sak­

sama telah memakai  banyak sekali ayat Alkitab dan pendekatan 

beliau dalam teologi berdasarkan pandangan dispensasionalisme. 

Mengingat timbulnya berbagai kecenderungan dan tekanan di 

bidang teologi masa kini dan terjadinya berbagai penyelidikan 

belakangan ini dalam beberapa bagian doktrin alkitabiah, maka 

agaknya karya beliau perlu diperbarui.

Agar dapat mempertahankan gaya dasar dan susunan yang di­

gunakan oleh beliau, pengaturan keseluruhan dan pembagian pasal- 

pasal pada dasarnya tidak diubah, kecuali ditambah satu pasal ten­

tang Roh Kudus dan satu bagian tentang eskatologi pribadi. Bebe­

rapa bagian, misalnya yang menyangkut pengilhaman, pemilihan, 

prapengetahuan, penciptaan, setan-setan, penghitungan dosa, dan 

ajaran bahwa kedatangan kembali Kristus untuk gereja-Nya akan 

terjadi sebelum masa kesengsaraan besar, telah direvisi secara 

ekstensif. Bagian-bagian yang lain telah ditinjau kembali dengan 

teliti dan telah diadakan berbagai perubahan, penghapusan, dan atau 

tambahan seperlunya. Petikan-petikan dari sumber-sumber yang le­

bih tua telah dihilangkan dan diganti dengan materi dari sumber- 

sumber yang lebih baru. Sebuah daftar pustaka yang terdiri atas 

buku-buku pilihan telah ditambah. Pembaca akan melihat bahwa 

kami telah menambahkan banyak ayat Alkitab.

Pekerjaan merevisi seperti ini tidak dapat dilakukan tanpa ban­

tuan banyak orang. Dengan penuh rasa terima kasih saya mengakui 

bahwa saya berhutang budi kepada rekan-rekan saya, para dosen di 

Talbot Theological Seminary, karena dorongan dan saran-saran 

mereka yang sangat bermanfaat; kepada keluarga saya yang telah 

mendoakan pekerjaan ini; kepada istri saya, Josephine, dan kepada 

ibu saya, Ny. Ruth Doerksen, karena dengan penuh kasih mereka 

telah mengetik serta mengoreksi manuskrip ini; kepada Lockman 

Foundation yang mengizinkan saya untuk mengutip banyak bagian 

dari New American Standard Bible; dan kepada ayali saya, Pdt. 

David Doerksen, yang sejak saya kecil sudah menanamkan di dalam 

hati saya rasa kecintaan terhadap teologi alkitabiah.

Kiranya Bapa di sorga berkenan memakai  buku ini untuk 

kemuliaan-Nya.




Mereka yang telah membaca silabus Dr. H. C: Thiessen yang 

berjudul, An Outline of Lectures in Systematic Theology, akan me­

nyambut terbitnya buku ini yang merupakan karya yang lebih 

lengkap. Dr. Thiessen dipanggil pulang ke sorga sementara beliau 

menulis buku ini. Karena beliau meninggal dunia, Ny. H. C. Thies­

sen meminta saya untuk menyelesaikan dan menyunting buku ter­

sebut.

Sepertiga bagian yang pertama dari buku ini yaitu  tepat se­

bagaimana beliau menulisnya. Mereka yang telah membaca silabus 

yang disebut di atas akan melihat bahwa materinya telah ditulis 

kembali dan disusun agak berlainan. Sudah pasti beliau akan me­

lakukan yang sama dengan bagian-bagian lain dari buku itu, se­

kiranya beliau masih hidup untuk menyelesaikannya. Beliau telah 

membuat ikhtisar yang lengkap tentang semua pasal dan saya hanya 

mengikuti ikhtisar ini  serta memakai materi yang ada  di 

dalam silabus. Sebagian besar petikan dari sumber-sumber yang 

tidak tercantum dalam silabus telah diambil dari catatan-catatan be­

liau pada halaman-halaman kosong dari salinan silabus yang ter­

dapat di meja tulis beliau. Pada dasarnya, saya hanya memakai  

petikan-petikan yang, menurut hemat saya, menguatkan uraian itu, 

atau membantu menjelaskan maknanya. jika  petikan-petikan itu 

hanya merupakan keterangan tambahan yang menarik maka saya 

tidak memakai nya.

Semua sumber yang kami kutip telah tercatat dalam catatan kaki. 

Saya sangat berhutang budi kepada semuanya, namun  terutama ke­

pada Augustus Hopkins Strong, Systematic Theology (Philadelphia: 

The Griffith and Rowland Press, 1906) untuk bagian yang berkena­

an dengan Masalah-Masalah yang Berhubungan dengan Kejatuhan, 

yang telah diikuti dengan cermat oleh Dr. Thiessen dalam silabus 

beliau.


Sebagian besar tugas saya ialah menyunting materi yang ada, 

memeriksa petikan-petikan, menyelesaikan pernyataan-pernyataan, 

menulis sebuah alinea atau satu bagian pendek sana sini, menyusun 

pasal-pasal sesuai dengan ikhtisar yang ada dan dengan cara 

demikian mempersiapkan manuskrip ini untuk diterbitkan.

Tiada pekerjaan manusia yang sempurna, namun  kami telah ber­

usaha sedapat-dapatnya agar ini merupakan karya yang sangat teliti. 

Setiap ayat Alkitab, kecuali ayat yang lazim seperti Yohanes 3:16, 

telah kami periksa. Akan namun , tidak ada waktu cukup untuk me­

meriksa semua petikan dari beberapa pengarang. Karena silabus itu 

telah diterbitkan sampai tiga kali, saya menganggap sudah pasti se­

mua petikan itu betul, sebab contoh-contoh yang kami pilih secara 

acak dan yang telah kami periksa ternyata betul adanya.

Saya menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Dr. 

Milford L. Baker, rektor California Baptist Theological Seminary 

dan Dr. H. Vernon Ritter, pustakawan pada seminari ini , ka­

rena keramahan dan kerja sama mereka. Seminari ini telah men­

dapatkan perpustakaan Dr. Thiessen saat  beliau wafat, namun  de­

ngan kebaikan dan kemurahan kristiani mereka mengizinkan kami 

meminjam dan memakai buku-buku itu dan buku-buku lain dari 

perpustakaan mereka selama kami membutuhkannya. Dr. Ritter sen­

diri telah meluangkan waktu untuk menemukan banyak buku untuk 

kami sehingga kami dapat memberikan penghargaan untuk semua 

petikan yang telah kami gunakan. Tak lupa kami mengucapkan 

terima kasih kepada Dr. Richard W. Cramer, ketua dari Division 

of Biblical Studies and Philosophy di Westmont College, Santa Bar­

bara, California, yang menyusun Indeks Pokok, Indeks Pengarang, 

dan Indeks Kata-Kata Yunani; kepada Nn. Goldie Wiens, guru di 

Shafter, California, yang menyusun Indeks Ayat-Ayat Alkitab. Sau­

dara perempuan saya, Nn. Kate I. Thiessen, seorang guru SMA di 

Oklahoma, telah mengetik seluruh manuskrip.

Saya mengutip dari Kata Pengantar Dr. Thiessen dalam stensilan 

silabus itu sebagai berikut:

"Diharapkan agar edisi yang sekarang akan memaparkan kebe­

naran dengan lebih jelas dan lebih logis, dan bahwa Allah Tri­

tunggal, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus akan dimuliakan saat  

buku ini dibaca."

Seperti dalam edisi-edisi sebelumnya, kami memakai  

xii

Alkitab American Standard Version, sebagai terjemahan yang lebih 

baik dari idiom bahasa Ibrani dan bahasa Yunani, kecuali ada kete­

rangan yang lain.

Buku ini kami persembahkan dengan doa agar Tuhan member­

katinya dan menjadikannya berguna dalam mendidik orang-orang 

supaya mereka menjadi efektif dalam pelayanan pemberitaan Injil.

Sifat dan Perlunya Teologi

Untuk jangka waktu yang cukup lama teologi telah dianggap se­

bagai ratu ilmu-ilmu pengetahuan dan teologi sistematika sebagai 

mahkota sang ratu. Teologi sendiri merupakan ilmu pengetahuan 

yang mempelajari Tuhan dan karya-karya-Nya, sedangkan teologi 

sistematika merupakan sajian teratur dari hasil penelitian teologi. 

Ada pihak-pihak tertentu yang menolak teologi sebagai ilmu penge­

tahuan. Penolakan itu disebabkan oleh keragu-raguan apakah se­

seorang dapat mencapai kesimpulan-kesimpulan tertentu dalam 

bidang ini yang dapat dianggap sebagai pasti dan menentukan. Se­

orang teolog modem yang terpengaruh oleh filsafat pragmatisme 

yang sedang populer, bertolak dengan anggapan bahwa dalam teo­

logi, sebagaimana halnya dengan bidang-bidang penyelidikan lain­

nya, kepercayaan tidaklah perlu menjangkau lebih jauh daripada 

sekadar menyatakan hipotesis yang langsung dapat dipakai untuk 

saat itu; teologi tidak boleh diungkapkan sebagai sesuatu yang tetap 

dan menentukan. Teolog yang liberal tidak mengakui bahwa ajaran 

dan isi Alkitab sebagai Firman Tuhan itu mutlak benar, melainkan 

menerima bahwa segala sesuatu mengalami pembahan yang terus- 

menerus. Karena itu ia beranggapan bahwa mengungkapkan sebuah 

pandangan yang pasti tentang Tuhan dan kebenaran teologis bukan 

merupakan sikap yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekalipun 

demikian, kesarjanaan Injili percaya dengan teguh bahwa di dunia 

ini ada beberapa hal yang kokoh dan tetap. Mereka menunjuk 

kepada keteraturan pergerakan benda-benda angkasa, keteraturan 

hukum-hukum alam dan ilmu matematika sebagai bukti-bukti dasar 

untuk mempercayai demikian. Ilmu pengetahuan mungkin saja 

mempertanyakan keteraturan hukum-hukum alam, namun seorang

2 Sifat dan Perlunya Teologi

yang sudah dewasa dalam kepercayaannya kepada Tuhan meman­

dang ketidakteraturan yang kadang-kadang muncul ini sebagai cam­

pur tangan Allah dan sebagai wujud kuasa-Nya yang mengadakan 

mukjizat. Orang percaya yang sudah dewasa ini menandaskan 

bahwa sekalipun pemahaman manusia tentang penyataan ilahi itu 

berkembang terus, penyataan itu sendiri sama kokohnya dengan 

kebenaran dan keadilan Tuhan. Oleh karena itu ia percaya dalam 

kemungkinan dikerjakannya sebuah teologi dan teologi sistematika, 

dan ia pun menghargainya sebagaimana halnya orang-orang Kristen 

dewasa pada zaman dahulu. Bahkan seorang sarjana modem, yang 

tidak merumuskan kepercayaan teologisnya, memiliki pandangan- 

pandangan yang cukup kokoh pula dalam kaitan dengan masalah- 

masalah utama di bidang ini. Alasan bagi kenyataan ini ditemukan 

dalam keadaan mental dan moral sarjana itu sendiri. Namun 

bagaimanakah sifat teologi itu sebenarnya?

L SIFAT TEOLOGI

Istilah "teologi" dewasa ini dipakai dalam artiannya yang luas 

maupun dalam artiannya yang sempit. Istilah teologi berasal dari 

dua kata Yunani, yaitu theos dan logos. Theos berarti 'Tuhan" dan 

logos berarti "kata", "wejangan", atau "ajaran". Dengan demikian, 

secara sempit teologi dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang 

Tuhan. Namun, dalam artiannya yang lebih luas dan lebih umum, 

istilah teologi kemudian berarti seluruh ajaran Kristen, dan bukan 

sekadar ajaran tentang Tuhan saja, namun  juga semua ajaran yang 

membahas hubungan yang dipelihara oleh Tuhan dengan alam 

semesta ini. Dalam artian yang luas ini, teologi dapat kita 

definisikan sebagai ilmu tentang Tuhan dan hubungan-hubungan- 

Nya dengan alam semesta. Untuk membuat pemahaman ini makin 

jelas, akan kita bahas sejenak perbedaan antara teologi dengan etika, 

agama, dan filsafat.

A. TEOLOGI DAN ETIKA

Psikologi mempelajari perilaku; etika mempelajari kelakuan. Hal 

ini juga berlaku bagi etika filosofis maupun etika Kristen. Psikologi 

mempelajari bagaimana dan mengapa timbul perilaku tertentu; etika

Sifat dan Perlunya Teologi 3

mempelajari sifat moral kelakuan. Etika bisa bersifat deskriptif bisa 

pula praktis. Etika deskriptif mempelajari kelakuan manusia dari 

segi suatu tolok ukur tentang mana yang benar dan yang salah; 

etika praktis memberi landasan kepada etika deskriptif, namun 

secara lebih khusus menekankan alasan-alasan untuk berusaha 

hidup menurut tolok ukur ini . Etika filosofis, bagaimanapun 

juga, bertolak berdasarkan sebuah landasan yang semata-mata natu­

ralises sehingga tidak memiliki doktrin tentang dosa, tidak ada Juru­

selamat, tidak ada penebusan, tidak ada pembaharuan, dan tidak 

ada kehadiran ilahi yang membuat manusia mampu mencapai tujuan 

hidupnya.

Etika Kristen berbeda jauh dengan etika filosofis. Etika Kristen 

lebih luas dan lengkap karena sementara etika filosofis terikat 

kepada tugas-tugas antara manusia dengan manusia, etika Kristen 

juga meliputi tugas kewajiban terhadap Tuhan. Lagi pula, etika 

Kristen mempunyai motivasi yang berbeda. Dalam etika filosofis 

motivasinya bisa berupa hedonisme, utilitarianisme (ajaran bahwa 

apa yang berfaedah itu baik), perfeksionisme, atau perpaduan semua 

ini, seperti dalam humanisme. Akan namun , dalam etika Kristen 

motifnya ialah kasih serta kesediaan untuk tunduk kepada Tuhan. 

Sekalipun demikian, teologi meliputi wawasan yang jauh lebih luas 

daripada wawasan etika Kristen. Teologi juga mempelajari ajaran- 

ajaran tentang tritunggal ilahi, penciptaan, pemeliharaan, kejatuhan 

manusia, penjelmaan, penebusan, dan eskatologi. Semua pokok ini 

tidak termasuk dalam wawasan etika.

B. TEOLOGI DAN AGAMA

Istilah "agama" dipakai dalam berbagai arti yang sangat berbeda. 

Agama dapat dipakai secara sangat umum sebagai pemujaan dan 

perbuatan bakti kepada Tuhan, dewa, atau dewa-dewa. Agama dapat 

diungkapkan dalam bentuk-bentuk ibadat tertentu kepada Tuhan 

atau dewa. Agama dapat berarti kesetiaan kepada siapa pun atau 

apa pun. Secara lebih khusus, agama dapat merujuk kepada suatu 

sistem iman dan ibadat yang tertentu. Menjadi orang beragama 

berarti menjadi sadar akan keberadaan Yang Mahakuasa serta hidup 

sesuai dengan tuntutan-tuntutan Yang Mahakuasa. Agama Kristen 

terbatas pada kekristenan alkitabiah, agama sejati yang disajikan

4 Sifat dan Perlunya Teologi

oleh Kitab Suci. Agama Kristen merupakan kesadaran akan adanya 

Allah yang benar dan merupakan tanggung jawab kita kepada Dia. 

Namun, apa hubungan antara teologi dengan agama?

Hubungan antara teologi dengan agama yaitu  hubungan akibat- 

akibat yang dihasilkan oleh sebab-sebab yang sama, namun  dalam 

kawasan yang berbeda. Dalam dunia pemikiran sistematis, kenya­

taan-kenyataan mengenai Tuhan serta hubung an-Nya terhadap alam 

semesta menghasilkan teologi; dalam lingkup kehidupan pribadi dan 

kolektif, keberadaan Tuhan serta hubungan-Nya terhadap alam se­

mesta menghasilkan agama. Dengan kata lain, dalam teologi ma­

nusia menata renungan-renungannya tentang Tuhan dan alam se­

mesta, dan dalam agama manusia mengungkapkan lewat sikap dan 

tindakan pengaruh dari semua renungannya tentang Tuhan.

C. TEOLOGI DAN FILSAFAT

Teologi dan filsafat secara praktis mempunyai tujuan-tujuan yang 

sama, namun demikian keduanya sangat berbeda dalam pendekatan 

kepada serta caranya mencapai tujuan-tujuan itu. Teologi dan fil­

safat keduanya berusaha untuk memperoleh suatu pandangan dunia 

dan pandangan hidup yang komprehensif. namun  sedangkan teologi 

bertolak dari keyakinan akan adanya Tuhan dan bahwa Ia merupa­

kan sumber segala sesuatu, kecuali dosa, maka filsafat bertolak dari 

suatu hal lain yang dianggap ada dan dari gagasan bahwa hal yang 

ada itu sudah cukup memadai untuk menjelaskan segala sesuatu 

yang ada. Bagi beberapa filsuf kuno hal yang dianggap ada itu ada­

lah air, udara, atau api; bagi filsuf lainnya hal yang dianggap ada 

itu yaitu  pikiran atau ide; bagi lainnya lagi hal itu ialah alam, 

kepribadian, hidup, atau apa saja. Teologi bukan sekadar bertolak 

dari keyakinan akan adanya Tuhan, namun  teologi juga berkeyakinan 

bahwa Tuhan telah berkenan menyatakan diri-Nya. Filsafat menolak 

adanya Tuhan maupun bahwa Ia telah berkenan menyatakan diri. 

Dari keyakinan akan Tuhan serta penelitian terhadap penyataan 

ilahi, seorang teolog membangun pandangan dunia dan pandangan 

hidupnya; dari sesuatu yang dianggap ada beserta kekuatan-kekuat­

an yang dianggap ada di dalam sesuatu ini  seorang filsuf mem­

bangun pandangan dunia dan pandangan hidupnya.

Jadi, jelaslah bahwa teologi bertumpu pada suatu dasar objektif 

yang kokoh sedangkan filsafat hanya bertumpu pada dugaan-dugaan 

Sifat dan Perlunya Teologi 5

dan perkiraan-perkiraan filsuf itu sendiri. Sekalipun demikian fil­

safat memiliki nilai tertentu bagi teologi. Pertama-tama, filsafat se­

dikit banyak mendukung pandangan Kristen. Atas dasar hati nurani­

nya sendiri seorang filsuf dapat membenarkan keberadaan Allah, 

kebebasan, dan kekekalan. Selanjutnya, filsafat menunjukkan ke­

pada seorang filsuf keterbatasan akal untuk menyelesaikan masalah- 

masalah dasar dari kehidupan. Walaupun seorang teolog menghar­

gai semua bentuk pertolongan yang nyata dari filsafat, dengan cepat 

ia akan mengetahui bahwa filsafat tidak memiliki teori tentang asal 

mula segala sesuatu dan tidak mempunyai ajaran tentang peme­

liharaan, dosa, keselamatan, atau penggenapan akhir yang nyata. 

Karena semua pokok ini perlu sekali bagi sebuah pandangan dunia 

dan pandangan hidup yang memadai, seorang teolog mau tidak mau 

merasa tertarik kepada Tuhan dan kepada penyataan tentang diri- 

Nya dalam rangka mempelajari ajaran-ajaran tentang hal-hal ter­

sebut. Dan akhirnya, filsafat membuat seorang teolog mengenal 

pandangan-pandangan seorang kafir yang terpelajar. Filsafat sangat 

berarti bagi seseorang yang tidak percaya sebagaimana iman Kristen 

sangat berarti bagi seseorang yang percaya. Seseorang yang tidak 

percaya menganut filsafat dengan kegigihan yang sama sebagai­

mana seorang percaya menganut imannya. Dengan demikian, me­

ngetahui filsafat seseorang berarti memperoleh kunci untuk mema­

hami dan berbicara dengan orang ini  (Kisah 14:17; 17:22-31). 

namun  orang Kristen harus sadar bahwa filsafat tidak akan pernah 

mengantar seseorang kepada Kristus. Paulus menulis, "Oleh karena 

dunia ... tidak mengenal Allah oleh hikmatnya" (I Korintus 1:21), 

dan "Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan 

mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, 

dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa- 

penguasa yang akan ditiadakan. namun  yang kami beritakan ialah 

hikmat Allah ... tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal­

nya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak me­

nyalibkan Tuhan yang mulia" (I Korintus 2:6-8).

II. PERLUNYA TEOLOGI

Bahkan orang-orang yang tidak bersedia memformulasikan keya­

kinan teologis mereka memiliki pandangan-pandangan yang cukup 

6 Sifat dan Perlunya Teologi

kuat tentang pokok-pokok utama teologi. Maksudnya, suatu keya­

kinan teologis diperlukan. Hal ini disebabkan karena sifat intelek 

manusia serta soal-soal kehidupan yang praktis. Oleh karena itu, 

marilah kita renungkan sejenak alasan-alasan bagi perlunya teologi 

ini , dengan memikirkan secara khusus perlunya teologi bagi 

orang Kristen.

A. NALURI PENATA DARI INTELEK MANUSIA

Intelek manusia tidak puas dengan sekadar mengumpulkan fakta- 

fakta; akal manusia selalu berusaha mempersatukan dan menata 

pengetahuan yang dimilikinya. Akal tidak puas dengan sekadar me­

nemukan beberapa fakta tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta; 

akal ingin mengetahui hubungan antara tokoh-tokoh ini dengan hal- 

hal lainnya serta menata apa yang ditemukannya menjadi sebuah 

sistem. Akal tidak puas dengan pengetahuan yang sebagian-seba- 

gian saja, namun  ingin menata pengetahuan ini serta menarik kesim­

pulannya sendiri.

B. SIFAT KETIDAKPERCAYAAN ZAMAN INI YANG MERASUK 

DI MANA-MANA

Bahaya-bahaya yang mengancam gereja tidak datang dari ilmu pe­

ngetahuan, namun  dari filsafat. Sebagian besar zaman ini dirasuki 

oleh ateisme, agnostisisme, panteisme, dan unitarianisme. Seluruh 

lapisan kehidupan telah diracuni oleh ketidakpercayaan, apakah itu 

politik, perdagangan, pendidikan, atau kemasyarakatan. Sangat 

penting bagi orang Kristen untuk senantiasa "siap sedia pada segala 

waktu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada tiap-tiap 

orang yang meminta pertanggungan jawab ... tentang pengharapan" 

yang dimilikinya (I Petrus 3:15). Bila seorang anak Tuhan tidak 

memiliki landasan berpijak yang kuat, maka ia akan menjadi 

seperti seorang anak yang "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa 

angin pengajaran" (Efesus 4:14). Kita memerlukan sebuah sistem 

berpikir yang teratur sehingga dapat mempertanggungjawabkan 

iman kita secara konsisten. Bila kita tidak memiliki sistem berpikir 

yang teratur maka kita akan bingung menghadapi orang-orang yang 

memiliki sistem berpikir semacam itu. Alkitab menyajikan sebuah 

pandangan dunia yang konsisten dan juga menyediakan jawaban- 

Sifat dan Perlunya Teologi 7

jawaban terhadap masalah-masalah besar yang telah dihadapi oleh 

para filsuf sejak dahulu.

C. SIFAT ALKITAB

Alkitab merupakan lahan studi seorang teolog sebagaimana halnya 

alam merupakan lahan studi seorang ilmuwan, yaitu seperangkat 

fakta-fakta yang tidak teratur atau yang sebagiannya sudah teratur. 

Tuhan tidak menganggap perlu untuk menulis Alkitab dalam bentuk 

sebuah teologi yang sistematis: jadi, kitalah yang harus mengum­

pulkan fakta-fakta yang berserakan dan menatanya sedemikian rupa 

sehingga menjadi suatu sistem yang logis. Memang ada ajaran-ajar­

an tertentu yang dibahas agak panjang lebar dalam suatu konteks 

tunggal; namun tidak ada satu pun ajaran yang telah diulas dan 

dibahas secara menyeluruh dalam satu bagian nas Alkitab. Ambil­

lah sebagai contoh pembahasan yang agak mendalam dari sebuah 

ajaran atau tema dalam nas tertentu: makna kematian Kristus dalam 

kelima upacara korban dari Imamat 1-7; keunggulan-keunggulan 

Alkitab dalam Mazmur 19, 119; ajaran tentang kemahahadiran dan 

kemahatahuan Tuhan dalam Mazmur 139; penderitaan, kematian, 

dan pemuliaan Hamba Tuhan dalam Yesaya 53; pemulihan kembali 

ibadah bait suci serta tanah air kepada Israel dalam Yehezkiel 40- 

48; nubuat-nubuat tentang Masa bangsa-bangsa bukan Yahudi da­

lam Daniel 2, 7; kembalinya Kristus ke bumi ini dan peristiwa- 

peristiwa yang berkaitan dengan kedatangan ini  dalam Zakha­

ria 14; Wahyu 19:11-22:6; ajaran tentang oknum Kristus dalam 

Yohanes 1:1-18; Filipi 2:5-11; Kolose 1:15-20; Ibrani 1:1-4; ajaran 

Yesus mengenai Roh Kudus dalam Yohanes 14-16; kedudukan 

orang-orang Kristen bukan Yahudi dalam kaitan terhadap taurat 

Musa dalam Kisah 15:1-29, Galatia 2:1-10; ajaran pembenaran oleh 

iman dalam Roma 1:17-5:21; kedudukan negara Israel pada masa 

kini dan masa datang dalam Roma 9-11; masalah karunia-karunia 

Roh dalam I Korintus 12, 14; sifat kasih dalam I Korintus 13; ajaran 

tentang kebangkitan dalam I Korintus 15; sifat dari gereja dalam 

Efesus 2, 3; keberhasilan-keberhasilan iman dalam Ibrani 11; dan 

masalah penderitaan dalam kitab Ayub dan I Petrus. Walaupun 

tema-tema itu telah diuraikan secara agak lengkap dalam bagian- 

bagian Alkitab ini , tidak satu tema pun diuraikan secara 

8 Sifat dan Perlunya Teologi

menyeluruh. Oleh karena itu, bila kita ingin mengetahui seluruh 

fakta tentang suatu pokok tertentu maka kita perlu mengumpulkan 

ajaran-ajaran yang berserakan tentang pokok tertentu dan kemudian 

menatanya menjadi suatu sistem yang logis dan harmonis.

D. PENGEMBANGAN WATAK KRISTEN YANG CERDAS

ada  dua pandangan yang salah tentang pokok ini: (1) bahwa 

hampir tidak ada atau bahkan tidak ada samasekali kaitan antara 

kepercayaan seseorang dengan wataknya, dan bahwa (2) teologi 

cenderung mematikan kehidupan rohani. Seorang liberal kadang- 

kadang menuduh orang percaya yang ortodoks sebagai bersikap 

tidak masuk akal karena mempertahankan kepercayaan tradisional 

gereja sementara ia hidup seperti orang kafir. Orang liberal me­

negaskan bahwa pernyataan kepercayaan orang ortodoks tidak ber­

pengaruh apa-apa terhadap watak dan kelakuannya. Di lain pihak, 

orang liberal berusaha untuk menghasilkan kehidupan yang baik 

tanpa pernyataan kepercayaan ortodoks. Bagaimana kita menjawab 

tuduhan ini? Sekadar menerima seperangkat ajaran secara intelek­

tual saja tidaklah cukup untuk menghasilkan buah-buah rohani, dan 

sayangnya, terlalu banyak orang hanya memiliki kesetiaan intelek­

tual terhadap kebenaran. Akan namun , iman yang benar, yang 

meliputi juga intelek, perasaan, serta kehendak, pastilah berdampak 

positif terhadap watak dan kelakuan. Manusia bertindak sesuai de­

ngan apa yang benar-benar diyakininya, dan bukan menurut apa 

yang sekadar dianggap sudah diyakininya.

Bahwa teologi memiliki pengaruh yang mematikan kehidupan 

rohani hanya dapat dikatakan benar bila teologi dipelajari sebagai 

sekadar teori saja. Bila teologi memiliki kaitan tertentu dengan ke­

hidupan, maka tidak mungkin teologi mempunyai pengaruh yang 

mematikan kehidupan rohani; sebaliknya, teologi malahan menjadi 

penuntun dalam merenungkan secara cerdas masalah-masalah reli­

gius dan menjadi pendorong untuk menjalankan kehidupan yang 

kudus. Bagaimana mungkin pandangan-pandangan yang benar dan 

lengkap tentang Tuhan, manusia, dosa, Kristus, sorga, dan neraka 

menghasilkan dampak yang berbeda? Teologi bukan sekadar meng- 

ajar kita kehidupan yang bagaimana yang sebaiknya kita jalani, te­

tapi juga mendorong kita untuk mewujudkan kehidupan semacam 

Sifat dan Perlunya Teologi 9

itu. Patut dicamkan bahwa kebenaran-kebenaran ajaran Alkitab se­

ring kali ada  dalam bagian yang membicarakan hal-hal praktis 

di Alkitab (lihat penjelmaan, II Korintus 8:9; Filipi 2:5-11). Teo­

logi tidak sekadar menunjuk kepada norma-norma kelakuan, namun 

juga menyajikan alasan-alasan mengapa kita perlu berperilaku se­

perti itu.

E. SYARAT-SYARAT BAGI PELAYANAN KRISTEN YANG 

EFEKTIF

Orang Kristen harus mengetahui ajaran Kristen. Kristus dan para 

rasul-Nya yaitu  pengkhotbah-pengkhotbah ajaran Kristen (Markus 

4:2; Kisah 2:42; II Timotius 3:10), dan kita juga diamanatkan untuk 

mengkhotbahkan ajaran Kristen (II Timotius 4:2; Titus 1:9). Orang 

percaya yang dengan saksama telah diindoktrinasi dengan Firman 

Tuhan akan mampu menjadi pekerja Kristen yang efektif dan pem­

bela iman yang gigih dan tidak kenal gentar. Hanya bila kita me­

ngetahui apa yang kita percayai maka kita akan mampu bertahan 

terhadap serangan-serangan dari si jahat serta melangkah maju terus 

menuju kepada kemenangan yang disediakan Kristus bagi kita.

II Kemungkinan dan Pembagian 

Teologi

Setelah menetapkan perlunya teologi, 

maka kini kita akan menyaji 

kan bukti yang menunjukkan kemungkinan teologi untuk kemudian 

menunjukkan pembagian-pembagian teologi yang umum dipakai.

I. KEMUNGKINAN TEOLOGI

Kemungkinan dikerjakannya teologi bersumber pada dua hal: pe- 

nyatan Allah dan kemampuan alami manusia. Penyataan Allah di­

perlihatkan dalam dua bentuk: umum dan khusus. Kemampuan 

alami manusia terdiri atas dua macam: mental dan rohani.

A. PENYATAAN ALLAH

Pascal menyebutkan Tuhan sebagai Deus Absconditus (Allah yang 

tersembunyi), namun ia juga beranggapan bahwa Tuhan yang ter­

sembunyi ini telah menyatakan diri-Nya, sehingga dengan demikian 

dapat dikenal. Ini betul. Pastilah kita tidak dapat mengenal Allah 

bila Allah tidak berkenan menyatakan diri-Nya. Namun apa artinya 

"penyataan"? Penyataan merupakan tindakan Allah untuk membuka 

tabir tentang diri-Nya atau mengkomunikasikan kebenaran kepada 

pikiran. Melalui cara ini Ia menyatakan kepada makhluk-makhluk 

ciptaan-Nya apa yang tidak mungkin diketahui dengan cara lain. 

Penyataan itu mungkin terjadi dalam suatu tindakan tunggal yang 

mendadak, atau dapat juga meliputi suatu jangka waktu yang pan­

jang; dan berita tentang diri-Nya dan kebenaran-Nya ini dapat 

dipahami oleh pikiran manusia dalam berbagai taraf kelengkapan.

11

12 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

Argumen-argumen formal untuk membuktikan keberadaan Tu­

han disajikan dalam pasal berikut, namun  pembahasan tentang 

penyataan Tuhan sangat perlu untuk membuktikan keberadaan-Nya. 

Dalam rangka membuktikan mungkinnya dikerjakan teologi, maka 

penyataan, baik yang umum maupun yang khusus, harus kita bahas 

dahulu.

1. Penyataan Allah yang Umum. Penyataan Allah yang umum 

ada  di alam, sejarah, dan hati nurani manusia. Penyataan umum 

ini disampaikan lewat fenomena alami yang terjadi dalam alam atau 

dalam alur sejarah; penyataan itu ditujukan kepada semua makhluk 

yang berakal sehingga dapat dipahami oleh semuanya. Penyataan 

ini bertujuan memenuhi kebutuhan alami manusia serta meyakinkan 

jiwa agar mencari Allah yang benar. Setiap dari ketiga bentuk pe­

nyataan ini patut dibahas secara singkat. Pertama, ada  penya­

taan tentang adanya Allah dalam alam. Semua sarjana ilmu-ilmu 

alam yang menolak gagasan tentang adanya Allah dan beranggapan 

bahwa alam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan sudah cukup 

jelas tidak dapat melihat penyataan Tuhan di dalam alam. Demikian 

pula orang panteis tidak dapat melihat penyataan yang benar tentang 

Allah di dalam alam. Beberapa tokoh panteisme mengidentikkan 

Tuhan dengan "segala sesuatu", "universum", atau "alam"; beberapa 

tokoh lainnya berbicara tentang Dia sebagai kekuatan abadi dari 

energi yang mempengaruhi semua perubahan yang terjadi di dalam 

dunia fenomena, sedangkan yang lain lagi melihat Tuhan sebagai 

akal yang mewujudkan diri di alam semesta. Karena tokoh-tokoh 

ini beranggapan bahwa dunia merupakan rantai sebab-akibat yang 

tertutup, maka mereka tidak menemukan penyataan tentang Allah 

yang adikodrati dalam alam semesta. Demikian pula sarjana-sarjana 

teologi krisis masa kini tidak memberikan tempat kepada penyataan 

Allah dalam alam. Sebagai contoh, Barth beranggapan bahwa ma­

nusia telah samasekali kehilangan gambar Allah yang semula se­

hingga tanpa tindakan adikodrati dalam setiap kasus individual, ma­

nusia tidak mungkin memiliki pengetahuan tentang Allah. Allah ha­

rus menciptakan dahulu kemungkinan bagi terjadinya suatu 

penyataan serta menyampaikannya kepada manusia. Brunner ber­

pendapat bahwa walaupun manusia telah kehilangan isi dari gambar 

Allah, manusia tidak kehilangan bentuk gambar ini . Dengan

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 13

demikian, Brunner percaya bahwa manusia menangkap sepercik 

pengetahuan tentang Tuhan dalam alam.

Kaum deis, di pihak lain, beranggapan bahwa alam itu merupa­

kah penyataan yang serba memadai tentang Tuhan. Mereka me­

ngatakan bahwa alam memberikan kepada kita beberapa kebenaran 

yang sederhana dan tak berubah tentang Tuhan, kebajikan, keaba­

dian, dan imbalan pada masa depan yang begitu jelas sehingga tidak 

memerlukan penyataan khusus. Namun, filsafat yang bersifat skep­

tis dan kritis telah menunjukkan bahwa tidak pernah ada penyataan 

semacam itu dalam alam sebagaimana dikatakan oleh kaum deis. 

Apa yang mereka anggap sebagai penyataan dalam alam itu tidaklah 

lebih daripada sekadar kebenaran-kebenaran abstrak yang 

diperoleh bukan dari alam, namun  dari agama-agama lain, khususnya 

dari agama Kristen. Pandangan deistis telah diganti dengan keper­

cayaan bahwa di alam ini tidak ada penyataan tentang Allah.

Namun, umat manusia pada umumnya senantiasa telah melihat 

penyataan tentang Allah dalam alam ini. Beberapa orang yang ber­

bakat telah sering mengungkapkan keyakinan mereka dalam bahasa 

yang mirip dengan bahasa yang telah dipakai oleh para pemazmur, 

nabi, dan rasul (Ayub 12:7-9; Mazmur 8:2-4; 19:2 dst.; Yesaya 

40:12-14, 26; Kisah 14:15-17; Roma 1:19 dst.) Penyataan Allah 

yang terlihat di alam menunjukkan bahwa Tuhan itu ada dan bahwa 

Ia memiliki sifat-sifat seperti kekuasaan, kemuliaan, keilahian, dan 

kebaikan. Namun penyataan yang terlihat dalam alam ini terbatas 

sifatnya. Sekalipun penyataan itu membuat manusia tidak 

bisa mengelak, namun  itu tidak dapat menuntun manusia kepada 

keselamatan. Bagaimanapun juga penyataan yang umum ini dimak­

sudkan untuk mendorong manusia mencari penyataan yang lebih 

lengkap tentang Allah serta rencana keselamatan-Nya. Juga 

penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Allah kepada 

manusia agar kembali kepada-Nya. Selanjutnya, penyataan ini telah 

dikaburkan oleh keberadaan kejahatan di dalam dunia.

Selain dari penyataan Allah yang ada  dalam alam, juga ter­

dapat penyataan Allah dalam sejarah. Pemazmur membuat suatu 

pernyataan yang tegas sekali bahwa nasib para raja dan kerajaan- 

kerajaan berada di tangan Tuhan saat  ia mengatakan, "Sebab bu­

kan dari timur atau dari barat, dan bukan dari padang gurun da­

tangnya peninggian itu, namun  Allah yaitu  Hakim: direndahkan­

14 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain" (Mazmur 75:7-8; 

lihat juga Roma 13:1). Paulus mengatakan bahwa "Dari satu orang 

saja Ia (Tuhan) telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia 

untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan mu­

sim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya 

mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemu­

kan Dia" (Kisah 17:26-27). Seiring dengan deklarasi ini, sistem 

Kristen menemukan dalam sejarah penyataan tentang kuasa dan pe­

meliharaan Allah.

Demikian pula, Alkitab berbicara tentang perlakuan Tuhan ter­

hadap Mesir (Keluaran 9:13-17; Yeremia 46:14-26; Roma 9:17), 

Asyur (Yesaya 10:5-19; Yehezkiel 31:1-14; Nahum 3:1-7), 

Babilonia (Yeremia 50:1-16; 51:1-4), Media-Persia (Yesaya 44:24- 

45:7), Media-Persia bersama dengan Yunani (Daniel 8:1-21), ke­

empat kerajaan yang muncul setelah kerajaan Aleksander Agung 

terbagi (Daniel 11:5-35), dan seluruh kerajaan Roma (Daniel 7:7-8, 

23-24). Alkitab senantiasa menunjukkan bahwa "kebenaran mening­

gikan derajat bangsa, namun  dosa yaitu  noda bangsa" (Amsal 

14:34). Alkitab juga menunjukkan bahwa sekalipun Tuhan dapat 

saja, demi perwujudan maksud-maksud-Nya yang kudus dan bijak­

sana, membiarkan suatu bangsa yang lebih jahat menguasai yang 

tidak begitu jahat untuk sementara, namun  pada akhirnya Ia akan 

menghukum bangsa yang lebih jahat itu dengan lebih hebat daripada 

bangsa yang tidak begitu jahat (Habakuk 1:1-2:20).

Terutama sekali, Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam se­

jarah Israel—dalam pengertian Israel tentang Allah dan cara-cara 

Tuhan memperlakukan Israel. Mengenai pemahaman Israel tentang 

Allah, sangatlah mencolok bahwa saat  seluruh dunia terjerumus 

ke dalam jurang politeisme dan panteisme, Abraham, Ishak, Yakub, 

serta keturunan mereka dapat mengenal Allah sebagai Allah yang 

berkepribadian, tak terbatas, kudus dan menyatakan diri, sebagai 

pencipta, pemelihara, dan penguasa alam semesta ini (Yosua 24:2). 

Bukan saja itu, namun  mereka juga memahami bahwa manusia yang 

pada mulanya diciptakan menurut gambar Allah, telah jatuh dari 

kedudukan yang begitu tinggi dan telah mendatangkan dosa, peng­

hukuman. dan kematian atas dirinya dan keturunannya. Dan bahkan 

lebih dari itu, bahwa mereka dapat memahami maksud penebusan 

Allah dengan perantaraan korban persembahan, pembebasan 

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 15

melalui kematian seorang Mesias, penyelamatan semua bangsa, dan 

pada akhirnya pemerintahan yang adil dan penuh damai sejahtera. 

Semua ini merupakan pemahaman-pemahaman yang sungguh luar 

biasa! Akan namun , semua pemahaman ini bukan disebabkan oleh 

kehebatan Israel dalam beragama, melainkan karena penyataan 

Allah kepada umat-Nya itu. Dikatakan bahwa Allah sendiri menam­

pakkan diri kepada para leluhur; memperkenalkan diri-Nya dan 

memberi tahu kehendak-Nya melalui mimpi, penglihatan, dan 

ekstase; menyampaikan amanat-Nya langsung kepada mereka; dan 

mengungkapkan sifat-Nya yang kudus dalam hukum-hukum Musa, 

sistem persembahan korban, dan kebaktian dalam kemah perhim­

punan dan bait suci.

Penyataan Allah juga terlihat dalam sejarah bangsa Israel. Se­

kalipun Israel itu bangsa yang kecil, yang hidup di daerah yang 

terpencil, dan hampir tidak memiliki hubungan dagang dengan du­

nia di sekitarnya, Israel tetap merupakan bangsa yang diperhatikan 

oleh seluruh dunia (Ulangan 28:10). saat  Tuhan mengancam akan 

menghancurkan bangsa itu di padang gurun akibat dosa hebat yang 

telah mereka perbuat, Musa memohon dengan sangat kepada Tuhan 

untuk mengasihani bangsa itu karena kehormatan-Nya akan ikut 

terlibat dalam hancurnya bangsa Israel (Keluaran 32:12; Ulangan 

9:28). Pada waktu Israel taat kepada Tuhan, mereka mengalahkan 

tujuh bangsa yang lebih besar daripada mereka (Ulangan 7:1; 9:1; 

Yosua 6-12); namun  saat  mereka mengikuti jalan mereka sendiri, 

Allah menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa lain untuk me­

nindas dan membuang mereka ke daerah yang jauh. saat  mereka 

bertobat dan berseru kepada Tuhan, Ia mengutus seorang pembebas 

dan memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka. 

Rangkaian dosa, pertobatan, dan pembebasan ini terulang berkali- 

kali dalam kitab Hakim-Hakim. Daud mengalahkan semua musuh­

nya karena ia hidup menurut kehendak Tuhan (II Samuel 7:9-11), 

dan semua raja yang saleh menikmati kemakmuran di dalam ne­

garanya dan memperoleh kemenangan dalam peperangan terhadap 

musuhnya. namun  setiap kali bangsa itu menjauh dari Tuhan, me­

reka mengalami musim kering berkepanjangan, bencana belalang, 

dan kekalahan dalam perang. Oleh karena itu semua, dapat dikata­

kan bahwa dalam semua pengalaman Israel Allah menyatakan diri- 

Nya bukan saja kepada bangsa itu, namun  juga melalui bangsa itu 

16 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

kepada seluruh dunia.

Dan akhirnya, Allah dinyatakan dalam hati nurani manusia. Suatu 

definisi yang lebih lengkap tentang hati nurani akan disajikan dalam 

hubungan dengan sifat moral manusia (Pasal XVI), namun saat ini 

cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa hati nurani itu tidaklah 

merupakan sesuatu yang berdaya cipta, melainkan lebih tepat di­

katakan sesuatu yang mampu membedakan dan mendorong. Hati 

nurani menentukan apakah suatu kelakuan atau sikap tertentu se­

laras dengan standar moral kita atau tidak dan mendorong kita 

untuk melakukan apa yang selaras dengan standar ini  serta 

menahan diri agar tidak melakukan hal yang bertentangan dengan­

nya. Kesadaran tentang benar dan salah yang ada  di dalam ma­

nusia yang membedakan antara baik dan benar serta mendorong 

kita melakukan yang benar itulah yang merupakan penyataan dari 

Tuhan. Ini bukan sesuatu yang dibebankan manusia pada dirinya 

sendiri, karena jelas bahwa manusia sering kali berusaha untuk 

membebaskan diri darinya; hati nurani merupakan pencerminan 

Allah dalam jiwa manusia. Sebagaimana cermin dan permukaan air 

danau yang tenang mencerminkan matahari serta menyingkapkan 

bukan saja keberadaan matahari itu, namun  sampai ke taraf tertentu 

juga sifatnya, demikian pula hati nurani di dalam manusia menying­

kapkan bahwa Allah itu ada dan sampai taraf tertentu juga me­

nyingkapkan sifat Allah. Maksudnya, hati nurani menyingkapkan 

kepada kita bukan saja bahwa Dia ada, namun  bahwa Ia membedakan 

secara tajam antara yang benar dan yang salah (Roma 2:14-16), 

bahwa Ia senantiasa melakukan yang benar, dan bahwa Ia menuntut 

pertanggungjawaban umat ciptaan-Nya untuk selalu melakukan 

yang baik dan menjauhi yang salah. Hati nurani juga menyiratkan 

bahwa setiap pelanggaran akan dihukum.

Dengan demikian, kita menarik kesimpulan bahwa hati nurani 

manusia merupakan penyataan lain dari Allah. Larangan dan perin­

tah hati nurani, keputusan dan dorongannya, tidak akan memiliki 

wibawa apa pun atas kita bila kita tidak merasa bahwa di dalam 

hati nurani kita mengenal realitas, sesuatu di dalam sifat kita yang 

pada saat yang sama juga melebihi sifat kita. Dengan kata lain, hati 

nurani menunjukkan bahwa ada hukum benar dan salah yang nyata 

di alam semesta ini, dan bahwa ada Pembuat hukum tertinggi yang 

mewujudkan hukum ini  dalam pribadi dan kelakuan-Nya.

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 17

2. Penyataan Allah yang khusus. Yang kami maksudkan dengan 

penyataan khusus ialah tindakan-tindakan Allah yang dengannya Ia 

memperkenalkan diri-Nya serta kebenaran-Nya pada saat-saat ter­

tentu dan kepada orang-orang tertentu. Sekalipun penyataan khu­

sus ini diberikan kepada orang-orang khusus dan pada saat-saat khu­

sus, penyataan ini tidak selalu diperuntukkan bagi saat dan orang 

ini  saja. Memang, manusia ditugaskan untuk mengabarkan per­

buatan Tuhan serta karya-Nya yang ajaib kepada semua bangsa di 

bumi ini (Mazmur 105:1 dst.). Penyataan khusus itu yaitu  bagai­

kan harta benda yang harus dibagi dengan seluruh dunia (Matius 

28:19 dst.; Lukas 2:10; Kisah 1:8). Penyataan khusus itu diungkap­

kan kepada manusia melalui berbagai cara: dalam bentuk mukjizat 

dan nubuat, dalam diri dan karya Kristus Yesus, dalam Alkitab, dan 

dalam pengalaman pribadi. Setiap cara ini akan kita bahas secara 

singkat.

Pertama, Allah menyatakan diri-Nya dalam berbagai mukjizat. 

Sebuah mukjizat sejati merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa, 

yang menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat, serta menying­

kapkan kehadiran dan kuasa Tuhan (Keluaran 4:2-5; I Raja-Raja 

18:24; Yohanes 5:36; 20:30 dst; Kisah 2:22). Sebuah mukjizat 

palsu, bila bukan sekadar tipuan murahan belaka, merupakan 

pameran kuasa yang ganjil untuk sekadar berlagak dan mutunya 

lebih rendah daripada mukjizat sejati. Mukjizat palsu juga dapat 

dilakukan oleh kuasa Iblis dan setan-setan (Keluaran 7:11-22; 

Matius 24:24; Kisah 8:9-11; 13:6-8; II Tesalonika 2:9; Wahyu 

13:13). Sebuah mukjizat sejati merupakan suatu peristiwa luar biasa 

karena bukan merupakan hasil apa yang dinamakan hukum-hukum 

alam. Dalam kaitan dengan alam, ada dua macam mukjizat: (1) 

mukjizat yang berbentuk peningkatan atau penambahan hukum- 

hukum alam, seperti yang terjadi saat  air bah, beberapa tulah di 

Mesir, kekuatan yang dimiliki Simson, dan lain-lain, dan (2) muk­

jizat yang tidak mengikutsertakan unsur-unsur alam yang ada, se­

perti saat  tongkat Harun berbunga, air yang keluar dari batu 

karang, pelipatgandaan roti dan ikan, penyembuhan orang sakit, 

kebangkitan orang mati, dan lain-lain. Sering kali saat terjadinya 

suatu mukjizat itu sendiri sifatnya ajaib, seperti terlihat dalam peris­

tiwa terbelahnya Laut Merah. Sebuah mukjizat sejati menghasilkan 

sebuah karya yang praktis dan bermanfaat. Mukjizat-mukjizat Kris­

18 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

tus diadakan demi kepentingan orang-orang yang dilayani oleh- 

Nya.

Mukjizat-mukjizat yang sejati merupakan penyataan yang khusus 

tentang kehadiran dan kuasa Allah. Mukjizat itu membuktikan ke­

beradaan, kehadiran, kepedulian, dan kekuasaan-Nya. Boleh 

dikatakan bahwa pada saat sebuah mukjizat sejati terjadi, Tuhan 

keluar dari persembunyian-Nya dan menunjukkan kepada manusia 

bahwa Ia itu Allah yang hidup, bahwa Ia masih bertakhta menguasai 

alam semesta, dan bahwa Ia cukup mampu untuk mengatasi semua 

masalah yang dihadapi umat manusia. Bila sebuah mukjizat tidak 

menghasilkan keyakinan seperti itu tentang Tuhan, mungkin muk­

jizat itu tidak sejati.

Golongan berpaham naturalistis, panteistis, dan deistis semuanya 

secara apriori menolak adanya mukjizat. Bagi mereka alam semesta 

merupakan sebuah mesin yang dapat memelihara diri dengan 

usahanya sendiri. Mukjizat bagi mereka itu mustahil karena diang­

gap melanggar hukum-hukum alam, dan selanjutnya, mukjizat bagi 

mereka tidak masuk akal karena bertolak belakang dengan penga­

laman manusia. Pendapat semacam ini dapat dijawab sebagai 

berikut. Dasar pemikiran pertama secara salah beranggapan bahwa 

hukum-hukum alam dapat berdiri sendiri dan tanpa pengaruh, 

pengarahan, dan pemeliharaan dari luar. Yang benar ialah bahwa 

hukum-hukum alam itu tidak sepenuhnya dapat berdiri sendiri 

karena kuasa saja tidak dapat memelihara dirinya dan tidak dapat 

bekerja menurut maksud tertentu; untuk itu diperlukan suatu kuasa 

yang tak terbatas dan berakal; dan kuasa itu searah dalam segenap 

kegiatannya, baik yang berkaitan dengan benda maupun yang ber­

kaitan dengan akal, tanpa merusak semuanya itu. Akan namun , de­

ngan tindakan-tindakan jahat, Tuhan hanya searah sejauh itu 

berupa tindakan-tindakan alami, dan bukan karena sifat jahat tin­

dakan-tindakan itu. Dan jika Tuhan melakukan hal itu dalam pelak­

sanaan hukum-hukum alam yang umum, mengapa kita mengang­

gapnya sebagai pelanggaran hukum alam bila dalam pelaksanaan 

yang luar biasa Ia berkenan meningkatkan atau menambahkan ke­

kuatan hukum-hukum alam, bertindak tidak searah dengan hukum- 

hukum itu atau bertindak terlepas dari hukum-hukum alam ini ?

Dasar pemikiran kedua bahwa mukjizat itu tidak masuk akal ka­

rena bertolak belakang dengan pengalaman manusia, secara salah 

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 19

beranggapan bahwa kita perlu melandaskan semua keyakinan kita 

pada pengalaman manusia dewasa ini saja. Para pakar geologi mem­

beri tahu bahwa pada masa silam telah terjadi kegiatan-kegiatan 

yang hebat pada zaman es sehingga terbentuklah lautan dan teluk; 

kita tidak menyaksikannya pada zaman kita, namun kita menerima 

keterangan itu. Penyataan Allah yang menyingkapkan diri lewat 

alam, sejarah, dan hati nurani seharusnya menuntun kita kepada 

kenyataan bahwa mukjizat bisa saja terjadi pada berbagai waktu. 

Mukjizat tidak bertolak belakang dengan pengalaman manusia 

kecuali itu bertolak belakang dengan semua pengalaman manusia 

dahulu dan sekarang. Kenyataan ini membuka pintu lebar-lebar 

bagi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi yang dapat ditunjang oleh 

bukti-bukti yang memadai.

Lagi pula, para pakar geologi secara terus terang mengakui bah­

wa kehidupan di atas planet ini tidak berawal di dalam kekekalan. 

Mereka tidak memiliki bukti kuat yang meyakinkan tentang asal 

mula hidup ini. Namun kehidupan ini pasti tidak berasal dari sesuatu 

yang mati; kehidupan hanya dapat berasal dari kehidupan. Dengan 

demikian, masuknya hidup ke planet ini merupakan bukti tersendiri 

tentang adanya mukjizat.

Dan kini, secara positif, kita mengatakan bahwa bukti adanya 

mukjizat bertumpu pada kesaksian. Kepercayaan dilandaskan pada 

apa yang kita anggap sebagai kesaksian yang benar. Betapa sedikit­

nya sejarah yang kita ketahui bila kita mempercayai hanya hal-hal 

yang kita amati dan alami sendiri! Mukjizat-mukjizat dalam Alkitab 

bertumpu pada kesaksian yang sah. Tidak mungkin kita meneliti 

bukti-bukti semua mukjizat itu dalam buku ini, dan hal ini juga 

tidak perlu; bila kita dapat membuktikan sebuah mukjizat yang ter­

golong paling penting dalam Alkitab, maka kita sudah membuka 

jalan bagi penerimaan mukjizat-mukjizat lainnya.

Kebangkitan jasmani Kristus merupakan salah satu fakta yang 

paling terbukti dalam sejarah.1 Hampir semua catatan yang mengi­

sahkan kebangkitan Kristus ditulis dalam jangka waktu 20-30 tahun 

setelah peristiwa ini ; semuanya meyakinkan kita bahwa Kris­

tus benar-benar mati dan dikuburkan; bahwa sekalipun para peng­

ikut-Nya tidak mengharapkan Kristus bangkit, banyak di antara me­

1 Untuk suatu studi yang terinci tentang bukti-bukti lihat McDowell, Evidence that 

Demands a Verdict, hal. 185-273.

20 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

reka melihatnya dalam keadaan hidup beberapa hari setelah penya­

liban-Nya; bahwa mereka begitu yakin akan kebangkitan-Nya 

sehingga sebulan setengah kemudian mereka dengan berani mem­

beritakan peristiwa ini  di depan umum di Yerusalem; tidak 

pernah peristiwa itu diragukan saat  disebutkan pada zaman rasuli 

baik saat itu maupun kemudian hari; tidak ada bukti yang menyang­

gah kebenarannya telah sampai kepada kita sekarang ini; bahwa 

para murid mengorbankan kedudukan sosial, harta benda, dan bah­

kan nyawa mereka sendiri untuk menyaksikan kebangkitan Kristus 

ini; bahwa Paulus tidak berusaha membela kenyataan kebangkitan 

ini, namun  memakainya sebagai bukti bahwa semua orang percaya 

suatu hari akan dibangkitkan juga; dan bahwa di dalam Gereja, Per­

janjian Baru, serta Hari Tuhan kita memiliki kesaksian yang men­

dukung bahwa peristiwa akbar ini benar-benar terjadi. Dan bila ke­

bangkitan Kristus merupakan fakta sejarah maka jalan telah terbuka 

untuk menerima mukjizat-mukjizat lainnya.

Dan akhirnya, kita percaya bahwa mukjizat masih saja terjadi. 

Mukjizat-mukjizat itu bahkan juga tidak bertolak belakang dengan 

pengalaman hidup sehari-hari. Semua orang Kristen memberi ke­

saksian bahwa Tuhan menjawab doa-doa yang dipanjatkan. Dan 

bahkan, mereka yakin bahwa Tuhan telah mengadakan mukjizat 

demi kepentingan mereka, atau demi kepentingan beberapa sahabat 

yang mereka doakan. Mereka yakin bahwa hukum-hukum alam se­

mata tidak dapat menjelaskan hal-hal yang telah mereka saksikan 

dengan mata kepala mereka dan juga alami dalam kehidupan me­

reka sendiri. Perlawanan yang hebat sekalipun dari orang-orang 

yang tidak percaya tak dapat membuat mereka berpikir lain. Secara 

lebih khusus lagi, kita berkali-kali dapat melihat mukjizat pemba­

haruan yang sampai kini pun masih tetap berlangsung. Kita tidak 

dapat mengubah warna kulit kita, demikian pula macan tutul tak 

dapat mengubah belangnya, namun Tuhan dapat dan memang 

mengubah hati serta menghilangkan segala cacat cela dari kehidup­

an orang berdosa. Kita akan membahas mukjizat ini secara lebih 

mendalam lagi saat  membahas penyataan Allah dalam pengalam­

an pribadi orang Kristen. Cukuplah kiranya untuk dikatakan saat 

ini bahwa jawaban-jawaban terhadap doa serta pengalaman pem­

baharuan membuktikan bahwa mukjizat masih berlangsung hingga 

saat ini.

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 21

Selanjutnya, Allah menyatakan diri dalam nubuat. Nubuat yang 

dimaksudkan di sini yaitu  pemberitahuan terjadinya suatu peris­

tiwa sebelum peristiwa itu sendiri terjadi, bukan melalui wawasan 

manusia atau kemampuan terus pandang, melainkan melalui pem­

beritahuan langsung dari Tuhan. Akan namun , karena kita tidak tahu 

apakah nubuat itu telah disampaikan secara langsung dari Tuhan 

sampai saat nubuat itu digenapi (Ulangan 18:21 dst.), nilai nubuat 

yang langsung sebagai bukti kehadiran dan kebijaksanaan Tuhan 

itu bergantung pada soal apakah orang yang menyampaikan nubuat 

ini  memiliki persekutuan yang hidup dan nyata dengan Tuhan. 

Hal ini dapat ditetapkan hanya atas dasar ajaran-ajaran serta ke­

salehan kehidupan orang yang menyampaikan nubuat ini  

(Ulangan 13:1-3; Yesaya 8:20; Yeremia 23:13 dst.). Dalam Perjan­

jian Lama "nabi-nabi palsu digambarkan sebagai pusing karena arak 

dan pening karena anggur (Yesaya 28:7), pezinah (Yeremia 23:14), 

pengkhianat (Zefanya 3:4), pendusta (Mikha 2:11), dan oportunis 

(Mikha 3:11)."2 Nabi yang sejati tidak memiliki ciri-ciri ini.

2 Tan, The Interpretation of Prophecy, hal. 79.

Mengenai apa yang nampaknya merupakan penggenapan nubuat, 

perlu dilakukan beberapa ujian tertentu sebelum peristiwa ini  

dapat diterima sebagai nubuat yang sesungguhnya. Misalnya, kita 

harus menentukan dahulu apakah nubuat itu cukup jauh dari peris­

tiwa yang dinubuatkannya sehingga menutup kemungkinan nubuat 

ini  merupakan hasil wawasan atau kemampuan terus pandang 

manusia. Orang-orang Yahudi pada masa Yesus Kristus, tidak dapat 

mengenal tanda-tanda zaman, yaitu bahwa tentara Romawi akan 

datang dan menghancurkan kota dan negara mereka, namun banyak 

negarawan dapat melihat dan meramalkan masa depan dengan cu­

kup tepat juga. Ramalan semacam itu, sekalipun cukup jitu, tidak 

dapat disebut sebagai nubuat. Kita juga harus meneliti bahasa yang 

dipakai saat  nubuat itu diucapkan untuk mengetahui apakah ba­

hasa ini  mengandung dua arti dan dapat ditafsirkan dengan 

berbagai penjelasan. Sebuah ucapan nubuat tidak boleh mengan­

dung dua arti sebelum dapat dianggap sebagai sebuah nubuat yang 

benar. Dengan jelas Nabi Yesaya bernubuat tentang Raja Koresy 

pada 150 tahun sebelum ia (Koresy) naik takhta (Yesaya 43:28- 

45:7; bandingkan dengan Ezra 1:1-4). Young menulis, 'Tentu saja 

22 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

Yesaya sendiri tidak dapat mengetahui nama raja ini , namun  

sebagai seorang nabi sejati yang diilhami oleh Roh Kudus, Yesaya 

dapat menyebutkan nama Koresy dengan pasti."3

Keberatan-keberatan yang telah diajukan terhadap nubuat dapat 

ditanggapi dengan cara yang sama sebagaimana menanggapi kebe­

ratan-keberatan terhadap mukjizat. Dengan nyata sekali Kristus 

merupakan terang yang menerangi setiap orang (Yohanes 1:9). 

Karena Allah merupakan pencipta dan pemelihara pikiran manusia, 

tidak ada apa-apa dalam kesadaran manusia yang terlepas dari 

Tuhan. Allah bekerja sama dengan pikiran manusia sebagaimana 

Allah bekerja sama dengan hukum alam, yaitu tanpa menghan­

curkan keduanya dan juga tanpa terlibat dalam dosa. Dan bila Tuhan 

bertindak demikian dalam proses-proses pikiran yang umum, tidak­

lah aneh bila Tuhan sekali-sekali melampaui proses pikiran itu dan 

bertindak terlepas darinya. Terhadap kemungkinan terjadinya 

nubuat ini dapat ditambahkan bukti langsung dari penggenapan 

nubuat. Tidak perlu kita membuktikan penggenapan semua nubuat 

yang ada  dalam Alkitab; beberapa di antaranya bahkan belum 

digenapi, namun  kami bermaksud menjelaskan satu jenis nubuat yang 

jelas telah digenapi. Bila daftar ayat-ayat berikut ini dapat ditun­

jukkan sebagai nubuat yang benar, maka tidak ada seorang pun 

yang dapat berkata bahwa komunikasi langsung dari Tuhan itu mus­

tahil dan tidak dapat terjadi.

Jenis nubuat ini yaitu  nubuat-nubuat tentang kedatangan Kristus 

yang pertama kalinya. Menganjurkan bahwa nubuat-nubuat itu me­

rupakan hasil kemampuan terus pandang manusia atau sekadar se­

buah kebetulan yang cocok merupakan suatu kemustahilan yang 

lebih besar daripada menganggapnya sebagai suatu penyataan lang­

sung dari Tuhan. Perhatikanlah beberapa nubuat tentang Kristus 

yang telah digenapi. Dinubuatkan bahwa Kristus akan (1) dilahirkan 

oleh seorang perawan (Yesaya 7:14; Matius 1:23), (2) merupakan 

keturunan Abraham (Kejadian 12:3; Galatia 3:8), (3) dari suku 

Yehuda (Kejadian 49:10; Ibrani 7:14), (4) merupakan keturunan 

Daud (Mazmur 110:1; Roma 1:3), (5) lahir di Betlehem (Mikha 

5:1; Matius 2:6), (6) diurapi oleh Roh (Yesaya 61:1 dst.; Lukas 

4:18 dst.). Kristus akan (7) memasuki Yerusalem naik keledai (Za-

3 Young, The Book of Isaiah, III, hal. 192.

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 23

kharia 9:9; Matius 21:5), (8) dikhianati oleh teman-Nya (Mazmur 

41:10; Yohanes 13:18), (9) dijual untuk tiga puluh uang perak (Za­

kharia 11:12 dst; Matius 26:15; 27:9 dst), (10) ditinggalkan oleh 

murid-murid-Nya (Zakharia 13:7; Matius 26:31, 56), (11) tangan 

dan kaki-Nya dipaku, namun  tidak ada satu pun tulang yang dipatah­

kan (Mazmur 22:17; 34:21; Yohanes 19:36; 20:20, 25). Orang akan 

(12) memberi-Nya minum anggur asam bercampur empedu (Maz­

mur 69:22); Matius 27:34), (13) mengambil pakaian-Nya serta 

membuang undi (Mazmur 22:19; Matius 27:35). Kristus akan (14) 

ditinggalkan oleh Allah (Mazmur 22:2; Matius 27:46), dan (15) 

dikuburkan di kubur orang kaya (Yesaya 53:9; Matius 27:57-60). 

Kristus akan (16) bangkit dari kematian (Mazmur 16:8-11), (17) 

naik ke sorga (Mazmur 68:19; Efesus 4:8), dan (18) duduk di se­

belah kanan Allah Bapa (Mazmur 110:2; Matius 22:43-45). 

Bukankah nubuat-nubuat yang telah digenapi ini merupakan bukti 

yang kuat bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya lewat nubuat? 

Bila Allah telah melakukan hal ini dalam nubuat-nubuat ini , 

kita dapat mengharapkan bahwa Tuhan juga menyatakan diri dalam 

nubuat-nubuat mengenai hal-hal lainnya juga.

Tambahan pula, Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Anak- 

Nya Yesus Kristus. Penyataan umum tentang Allah tidak menuntun 

dunia bukan Yahudi kepada pemahaman yang jelas akan keber­

adaan Allah, sifat Allah, dan kehendak-Nya (Roma 1:20-23); bah­

kan filsafat sekalipun tidak mampu memberikan pemahaman yang 

benar tentang Tuhan. Paulus menulis, "Oleh karena dunia, dalam 

hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya" (I Korintus 

1:21). Paulus kemudian menandaskan bahwa kebijaksanaan yang 

sejati "tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab 

kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan 

Tuhan yang mulia" (I Korintus 2:8). Sekalipun ada  penyataan 

Allah yang umum lewat alam, sejarah, dan hati nurani manusia, 

namun  dunia bukan Yahudi mengarahkan pandang