Selama tiga puluh tahun Teologi Sistematika, karangan Dr. Thies
sen, telah dipakai sebagai buku acuan standar di berbagai sekolah
Alkitab, perguruan tinggi, dan seminari di Amerika Serikat dan di
negara-negara lain yang berbahasa Inggris. Tak pelak lagi, buku ini
telah diterima di mana-mana oleh karena Dr. Thiessen dengan sak
sama telah memakai banyak sekali ayat Alkitab dan pendekatan
beliau dalam teologi berdasarkan pandangan dispensasionalisme.
Mengingat timbulnya berbagai kecenderungan dan tekanan di
bidang teologi masa kini dan terjadinya berbagai penyelidikan
belakangan ini dalam beberapa bagian doktrin alkitabiah, maka
agaknya karya beliau perlu diperbarui.
Agar dapat mempertahankan gaya dasar dan susunan yang di
gunakan oleh beliau, pengaturan keseluruhan dan pembagian pasal-
pasal pada dasarnya tidak diubah, kecuali ditambah satu pasal ten
tang Roh Kudus dan satu bagian tentang eskatologi pribadi. Bebe
rapa bagian, misalnya yang menyangkut pengilhaman, pemilihan,
prapengetahuan, penciptaan, setan-setan, penghitungan dosa, dan
ajaran bahwa kedatangan kembali Kristus untuk gereja-Nya akan
terjadi sebelum masa kesengsaraan besar, telah direvisi secara
ekstensif. Bagian-bagian yang lain telah ditinjau kembali dengan
teliti dan telah diadakan berbagai perubahan, penghapusan, dan atau
tambahan seperlunya. Petikan-petikan dari sumber-sumber yang le
bih tua telah dihilangkan dan diganti dengan materi dari sumber-
sumber yang lebih baru. Sebuah daftar pustaka yang terdiri atas
buku-buku pilihan telah ditambah. Pembaca akan melihat bahwa
kami telah menambahkan banyak ayat Alkitab.
Pekerjaan merevisi seperti ini tidak dapat dilakukan tanpa ban
tuan banyak orang. Dengan penuh rasa terima kasih saya mengakui
bahwa saya berhutang budi kepada rekan-rekan saya, para dosen di
Talbot Theological Seminary, karena dorongan dan saran-saran
mereka yang sangat bermanfaat; kepada keluarga saya yang telah
mendoakan pekerjaan ini; kepada istri saya, Josephine, dan kepada
ibu saya, Ny. Ruth Doerksen, karena dengan penuh kasih mereka
telah mengetik serta mengoreksi manuskrip ini; kepada Lockman
Foundation yang mengizinkan saya untuk mengutip banyak bagian
dari New American Standard Bible; dan kepada ayali saya, Pdt.
David Doerksen, yang sejak saya kecil sudah menanamkan di dalam
hati saya rasa kecintaan terhadap teologi alkitabiah.
Kiranya Bapa di sorga berkenan memakai buku ini untuk
kemuliaan-Nya.
Mereka yang telah membaca silabus Dr. H. C: Thiessen yang
berjudul, An Outline of Lectures in Systematic Theology, akan me
nyambut terbitnya buku ini yang merupakan karya yang lebih
lengkap. Dr. Thiessen dipanggil pulang ke sorga sementara beliau
menulis buku ini. Karena beliau meninggal dunia, Ny. H. C. Thies
sen meminta saya untuk menyelesaikan dan menyunting buku ter
sebut.
Sepertiga bagian yang pertama dari buku ini yaitu tepat se
bagaimana beliau menulisnya. Mereka yang telah membaca silabus
yang disebut di atas akan melihat bahwa materinya telah ditulis
kembali dan disusun agak berlainan. Sudah pasti beliau akan me
lakukan yang sama dengan bagian-bagian lain dari buku itu, se
kiranya beliau masih hidup untuk menyelesaikannya. Beliau telah
membuat ikhtisar yang lengkap tentang semua pasal dan saya hanya
mengikuti ikhtisar ini serta memakai materi yang ada di
dalam silabus. Sebagian besar petikan dari sumber-sumber yang
tidak tercantum dalam silabus telah diambil dari catatan-catatan be
liau pada halaman-halaman kosong dari salinan silabus yang ter
dapat di meja tulis beliau. Pada dasarnya, saya hanya memakai
petikan-petikan yang, menurut hemat saya, menguatkan uraian itu,
atau membantu menjelaskan maknanya. jika petikan-petikan itu
hanya merupakan keterangan tambahan yang menarik maka saya
tidak memakai nya.
Semua sumber yang kami kutip telah tercatat dalam catatan kaki.
Saya sangat berhutang budi kepada semuanya, namun terutama ke
pada Augustus Hopkins Strong, Systematic Theology (Philadelphia:
The Griffith and Rowland Press, 1906) untuk bagian yang berkena
an dengan Masalah-Masalah yang Berhubungan dengan Kejatuhan,
yang telah diikuti dengan cermat oleh Dr. Thiessen dalam silabus
beliau.
Sebagian besar tugas saya ialah menyunting materi yang ada,
memeriksa petikan-petikan, menyelesaikan pernyataan-pernyataan,
menulis sebuah alinea atau satu bagian pendek sana sini, menyusun
pasal-pasal sesuai dengan ikhtisar yang ada dan dengan cara
demikian mempersiapkan manuskrip ini untuk diterbitkan.
Tiada pekerjaan manusia yang sempurna, namun kami telah ber
usaha sedapat-dapatnya agar ini merupakan karya yang sangat teliti.
Setiap ayat Alkitab, kecuali ayat yang lazim seperti Yohanes 3:16,
telah kami periksa. Akan namun , tidak ada waktu cukup untuk me
meriksa semua petikan dari beberapa pengarang. Karena silabus itu
telah diterbitkan sampai tiga kali, saya menganggap sudah pasti se
mua petikan itu betul, sebab contoh-contoh yang kami pilih secara
acak dan yang telah kami periksa ternyata betul adanya.
Saya menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Dr.
Milford L. Baker, rektor California Baptist Theological Seminary
dan Dr. H. Vernon Ritter, pustakawan pada seminari ini , ka
rena keramahan dan kerja sama mereka. Seminari ini telah men
dapatkan perpustakaan Dr. Thiessen saat beliau wafat, namun de
ngan kebaikan dan kemurahan kristiani mereka mengizinkan kami
meminjam dan memakai buku-buku itu dan buku-buku lain dari
perpustakaan mereka selama kami membutuhkannya. Dr. Ritter sen
diri telah meluangkan waktu untuk menemukan banyak buku untuk
kami sehingga kami dapat memberikan penghargaan untuk semua
petikan yang telah kami gunakan. Tak lupa kami mengucapkan
terima kasih kepada Dr. Richard W. Cramer, ketua dari Division
of Biblical Studies and Philosophy di Westmont College, Santa Bar
bara, California, yang menyusun Indeks Pokok, Indeks Pengarang,
dan Indeks Kata-Kata Yunani; kepada Nn. Goldie Wiens, guru di
Shafter, California, yang menyusun Indeks Ayat-Ayat Alkitab. Sau
dara perempuan saya, Nn. Kate I. Thiessen, seorang guru SMA di
Oklahoma, telah mengetik seluruh manuskrip.
Saya mengutip dari Kata Pengantar Dr. Thiessen dalam stensilan
silabus itu sebagai berikut:
"Diharapkan agar edisi yang sekarang akan memaparkan kebe
naran dengan lebih jelas dan lebih logis, dan bahwa Allah Tri
tunggal, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus akan dimuliakan saat
buku ini dibaca."
Seperti dalam edisi-edisi sebelumnya, kami memakai
xii
Alkitab American Standard Version, sebagai terjemahan yang lebih
baik dari idiom bahasa Ibrani dan bahasa Yunani, kecuali ada kete
rangan yang lain.
Buku ini kami persembahkan dengan doa agar Tuhan member
katinya dan menjadikannya berguna dalam mendidik orang-orang
supaya mereka menjadi efektif dalam pelayanan pemberitaan Injil.
Sifat dan Perlunya Teologi
Untuk jangka waktu yang cukup lama teologi telah dianggap se
bagai ratu ilmu-ilmu pengetahuan dan teologi sistematika sebagai
mahkota sang ratu. Teologi sendiri merupakan ilmu pengetahuan
yang mempelajari Tuhan dan karya-karya-Nya, sedangkan teologi
sistematika merupakan sajian teratur dari hasil penelitian teologi.
Ada pihak-pihak tertentu yang menolak teologi sebagai ilmu penge
tahuan. Penolakan itu disebabkan oleh keragu-raguan apakah se
seorang dapat mencapai kesimpulan-kesimpulan tertentu dalam
bidang ini yang dapat dianggap sebagai pasti dan menentukan. Se
orang teolog modem yang terpengaruh oleh filsafat pragmatisme
yang sedang populer, bertolak dengan anggapan bahwa dalam teo
logi, sebagaimana halnya dengan bidang-bidang penyelidikan lain
nya, kepercayaan tidaklah perlu menjangkau lebih jauh daripada
sekadar menyatakan hipotesis yang langsung dapat dipakai untuk
saat itu; teologi tidak boleh diungkapkan sebagai sesuatu yang tetap
dan menentukan. Teolog yang liberal tidak mengakui bahwa ajaran
dan isi Alkitab sebagai Firman Tuhan itu mutlak benar, melainkan
menerima bahwa segala sesuatu mengalami pembahan yang terus-
menerus. Karena itu ia beranggapan bahwa mengungkapkan sebuah
pandangan yang pasti tentang Tuhan dan kebenaran teologis bukan
merupakan sikap yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekalipun
demikian, kesarjanaan Injili percaya dengan teguh bahwa di dunia
ini ada beberapa hal yang kokoh dan tetap. Mereka menunjuk
kepada keteraturan pergerakan benda-benda angkasa, keteraturan
hukum-hukum alam dan ilmu matematika sebagai bukti-bukti dasar
untuk mempercayai demikian. Ilmu pengetahuan mungkin saja
mempertanyakan keteraturan hukum-hukum alam, namun seorang
2 Sifat dan Perlunya Teologi
yang sudah dewasa dalam kepercayaannya kepada Tuhan meman
dang ketidakteraturan yang kadang-kadang muncul ini sebagai cam
pur tangan Allah dan sebagai wujud kuasa-Nya yang mengadakan
mukjizat. Orang percaya yang sudah dewasa ini menandaskan
bahwa sekalipun pemahaman manusia tentang penyataan ilahi itu
berkembang terus, penyataan itu sendiri sama kokohnya dengan
kebenaran dan keadilan Tuhan. Oleh karena itu ia percaya dalam
kemungkinan dikerjakannya sebuah teologi dan teologi sistematika,
dan ia pun menghargainya sebagaimana halnya orang-orang Kristen
dewasa pada zaman dahulu. Bahkan seorang sarjana modem, yang
tidak merumuskan kepercayaan teologisnya, memiliki pandangan-
pandangan yang cukup kokoh pula dalam kaitan dengan masalah-
masalah utama di bidang ini. Alasan bagi kenyataan ini ditemukan
dalam keadaan mental dan moral sarjana itu sendiri. Namun
bagaimanakah sifat teologi itu sebenarnya?
L SIFAT TEOLOGI
Istilah "teologi" dewasa ini dipakai dalam artiannya yang luas
maupun dalam artiannya yang sempit. Istilah teologi berasal dari
dua kata Yunani, yaitu theos dan logos. Theos berarti 'Tuhan" dan
logos berarti "kata", "wejangan", atau "ajaran". Dengan demikian,
secara sempit teologi dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang
Tuhan. Namun, dalam artiannya yang lebih luas dan lebih umum,
istilah teologi kemudian berarti seluruh ajaran Kristen, dan bukan
sekadar ajaran tentang Tuhan saja, namun juga semua ajaran yang
membahas hubungan yang dipelihara oleh Tuhan dengan alam
semesta ini. Dalam artian yang luas ini, teologi dapat kita
definisikan sebagai ilmu tentang Tuhan dan hubungan-hubungan-
Nya dengan alam semesta. Untuk membuat pemahaman ini makin
jelas, akan kita bahas sejenak perbedaan antara teologi dengan etika,
agama, dan filsafat.
A. TEOLOGI DAN ETIKA
Psikologi mempelajari perilaku; etika mempelajari kelakuan. Hal
ini juga berlaku bagi etika filosofis maupun etika Kristen. Psikologi
mempelajari bagaimana dan mengapa timbul perilaku tertentu; etika
Sifat dan Perlunya Teologi 3
mempelajari sifat moral kelakuan. Etika bisa bersifat deskriptif bisa
pula praktis. Etika deskriptif mempelajari kelakuan manusia dari
segi suatu tolok ukur tentang mana yang benar dan yang salah;
etika praktis memberi landasan kepada etika deskriptif, namun
secara lebih khusus menekankan alasan-alasan untuk berusaha
hidup menurut tolok ukur ini . Etika filosofis, bagaimanapun
juga, bertolak berdasarkan sebuah landasan yang semata-mata natu
ralises sehingga tidak memiliki doktrin tentang dosa, tidak ada Juru
selamat, tidak ada penebusan, tidak ada pembaharuan, dan tidak
ada kehadiran ilahi yang membuat manusia mampu mencapai tujuan
hidupnya.
Etika Kristen berbeda jauh dengan etika filosofis. Etika Kristen
lebih luas dan lengkap karena sementara etika filosofis terikat
kepada tugas-tugas antara manusia dengan manusia, etika Kristen
juga meliputi tugas kewajiban terhadap Tuhan. Lagi pula, etika
Kristen mempunyai motivasi yang berbeda. Dalam etika filosofis
motivasinya bisa berupa hedonisme, utilitarianisme (ajaran bahwa
apa yang berfaedah itu baik), perfeksionisme, atau perpaduan semua
ini, seperti dalam humanisme. Akan namun , dalam etika Kristen
motifnya ialah kasih serta kesediaan untuk tunduk kepada Tuhan.
Sekalipun demikian, teologi meliputi wawasan yang jauh lebih luas
daripada wawasan etika Kristen. Teologi juga mempelajari ajaran-
ajaran tentang tritunggal ilahi, penciptaan, pemeliharaan, kejatuhan
manusia, penjelmaan, penebusan, dan eskatologi. Semua pokok ini
tidak termasuk dalam wawasan etika.
B. TEOLOGI DAN AGAMA
Istilah "agama" dipakai dalam berbagai arti yang sangat berbeda.
Agama dapat dipakai secara sangat umum sebagai pemujaan dan
perbuatan bakti kepada Tuhan, dewa, atau dewa-dewa. Agama dapat
diungkapkan dalam bentuk-bentuk ibadat tertentu kepada Tuhan
atau dewa. Agama dapat berarti kesetiaan kepada siapa pun atau
apa pun. Secara lebih khusus, agama dapat merujuk kepada suatu
sistem iman dan ibadat yang tertentu. Menjadi orang beragama
berarti menjadi sadar akan keberadaan Yang Mahakuasa serta hidup
sesuai dengan tuntutan-tuntutan Yang Mahakuasa. Agama Kristen
terbatas pada kekristenan alkitabiah, agama sejati yang disajikan
4 Sifat dan Perlunya Teologi
oleh Kitab Suci. Agama Kristen merupakan kesadaran akan adanya
Allah yang benar dan merupakan tanggung jawab kita kepada Dia.
Namun, apa hubungan antara teologi dengan agama?
Hubungan antara teologi dengan agama yaitu hubungan akibat-
akibat yang dihasilkan oleh sebab-sebab yang sama, namun dalam
kawasan yang berbeda. Dalam dunia pemikiran sistematis, kenya
taan-kenyataan mengenai Tuhan serta hubung an-Nya terhadap alam
semesta menghasilkan teologi; dalam lingkup kehidupan pribadi dan
kolektif, keberadaan Tuhan serta hubungan-Nya terhadap alam se
mesta menghasilkan agama. Dengan kata lain, dalam teologi ma
nusia menata renungan-renungannya tentang Tuhan dan alam se
mesta, dan dalam agama manusia mengungkapkan lewat sikap dan
tindakan pengaruh dari semua renungannya tentang Tuhan.
C. TEOLOGI DAN FILSAFAT
Teologi dan filsafat secara praktis mempunyai tujuan-tujuan yang
sama, namun demikian keduanya sangat berbeda dalam pendekatan
kepada serta caranya mencapai tujuan-tujuan itu. Teologi dan fil
safat keduanya berusaha untuk memperoleh suatu pandangan dunia
dan pandangan hidup yang komprehensif. namun sedangkan teologi
bertolak dari keyakinan akan adanya Tuhan dan bahwa Ia merupa
kan sumber segala sesuatu, kecuali dosa, maka filsafat bertolak dari
suatu hal lain yang dianggap ada dan dari gagasan bahwa hal yang
ada itu sudah cukup memadai untuk menjelaskan segala sesuatu
yang ada. Bagi beberapa filsuf kuno hal yang dianggap ada itu ada
lah air, udara, atau api; bagi filsuf lainnya hal yang dianggap ada
itu yaitu pikiran atau ide; bagi lainnya lagi hal itu ialah alam,
kepribadian, hidup, atau apa saja. Teologi bukan sekadar bertolak
dari keyakinan akan adanya Tuhan, namun teologi juga berkeyakinan
bahwa Tuhan telah berkenan menyatakan diri-Nya. Filsafat menolak
adanya Tuhan maupun bahwa Ia telah berkenan menyatakan diri.
Dari keyakinan akan Tuhan serta penelitian terhadap penyataan
ilahi, seorang teolog membangun pandangan dunia dan pandangan
hidupnya; dari sesuatu yang dianggap ada beserta kekuatan-kekuat
an yang dianggap ada di dalam sesuatu ini seorang filsuf mem
bangun pandangan dunia dan pandangan hidupnya.
Jadi, jelaslah bahwa teologi bertumpu pada suatu dasar objektif
yang kokoh sedangkan filsafat hanya bertumpu pada dugaan-dugaan
Sifat dan Perlunya Teologi 5
dan perkiraan-perkiraan filsuf itu sendiri. Sekalipun demikian fil
safat memiliki nilai tertentu bagi teologi. Pertama-tama, filsafat se
dikit banyak mendukung pandangan Kristen. Atas dasar hati nurani
nya sendiri seorang filsuf dapat membenarkan keberadaan Allah,
kebebasan, dan kekekalan. Selanjutnya, filsafat menunjukkan ke
pada seorang filsuf keterbatasan akal untuk menyelesaikan masalah-
masalah dasar dari kehidupan. Walaupun seorang teolog menghar
gai semua bentuk pertolongan yang nyata dari filsafat, dengan cepat
ia akan mengetahui bahwa filsafat tidak memiliki teori tentang asal
mula segala sesuatu dan tidak mempunyai ajaran tentang peme
liharaan, dosa, keselamatan, atau penggenapan akhir yang nyata.
Karena semua pokok ini perlu sekali bagi sebuah pandangan dunia
dan pandangan hidup yang memadai, seorang teolog mau tidak mau
merasa tertarik kepada Tuhan dan kepada penyataan tentang diri-
Nya dalam rangka mempelajari ajaran-ajaran tentang hal-hal ter
sebut. Dan akhirnya, filsafat membuat seorang teolog mengenal
pandangan-pandangan seorang kafir yang terpelajar. Filsafat sangat
berarti bagi seseorang yang tidak percaya sebagaimana iman Kristen
sangat berarti bagi seseorang yang percaya. Seseorang yang tidak
percaya menganut filsafat dengan kegigihan yang sama sebagai
mana seorang percaya menganut imannya. Dengan demikian, me
ngetahui filsafat seseorang berarti memperoleh kunci untuk mema
hami dan berbicara dengan orang ini (Kisah 14:17; 17:22-31).
namun orang Kristen harus sadar bahwa filsafat tidak akan pernah
mengantar seseorang kepada Kristus. Paulus menulis, "Oleh karena
dunia ... tidak mengenal Allah oleh hikmatnya" (I Korintus 1:21),
dan "Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan
mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini,
dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-
penguasa yang akan ditiadakan. namun yang kami beritakan ialah
hikmat Allah ... tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal
nya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak me
nyalibkan Tuhan yang mulia" (I Korintus 2:6-8).
II. PERLUNYA TEOLOGI
Bahkan orang-orang yang tidak bersedia memformulasikan keya
kinan teologis mereka memiliki pandangan-pandangan yang cukup
6 Sifat dan Perlunya Teologi
kuat tentang pokok-pokok utama teologi. Maksudnya, suatu keya
kinan teologis diperlukan. Hal ini disebabkan karena sifat intelek
manusia serta soal-soal kehidupan yang praktis. Oleh karena itu,
marilah kita renungkan sejenak alasan-alasan bagi perlunya teologi
ini , dengan memikirkan secara khusus perlunya teologi bagi
orang Kristen.
A. NALURI PENATA DARI INTELEK MANUSIA
Intelek manusia tidak puas dengan sekadar mengumpulkan fakta-
fakta; akal manusia selalu berusaha mempersatukan dan menata
pengetahuan yang dimilikinya. Akal tidak puas dengan sekadar me
nemukan beberapa fakta tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta;
akal ingin mengetahui hubungan antara tokoh-tokoh ini dengan hal-
hal lainnya serta menata apa yang ditemukannya menjadi sebuah
sistem. Akal tidak puas dengan pengetahuan yang sebagian-seba-
gian saja, namun ingin menata pengetahuan ini serta menarik kesim
pulannya sendiri.
B. SIFAT KETIDAKPERCAYAAN ZAMAN INI YANG MERASUK
DI MANA-MANA
Bahaya-bahaya yang mengancam gereja tidak datang dari ilmu pe
ngetahuan, namun dari filsafat. Sebagian besar zaman ini dirasuki
oleh ateisme, agnostisisme, panteisme, dan unitarianisme. Seluruh
lapisan kehidupan telah diracuni oleh ketidakpercayaan, apakah itu
politik, perdagangan, pendidikan, atau kemasyarakatan. Sangat
penting bagi orang Kristen untuk senantiasa "siap sedia pada segala
waktu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada tiap-tiap
orang yang meminta pertanggungan jawab ... tentang pengharapan"
yang dimilikinya (I Petrus 3:15). Bila seorang anak Tuhan tidak
memiliki landasan berpijak yang kuat, maka ia akan menjadi
seperti seorang anak yang "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa
angin pengajaran" (Efesus 4:14). Kita memerlukan sebuah sistem
berpikir yang teratur sehingga dapat mempertanggungjawabkan
iman kita secara konsisten. Bila kita tidak memiliki sistem berpikir
yang teratur maka kita akan bingung menghadapi orang-orang yang
memiliki sistem berpikir semacam itu. Alkitab menyajikan sebuah
pandangan dunia yang konsisten dan juga menyediakan jawaban-
Sifat dan Perlunya Teologi 7
jawaban terhadap masalah-masalah besar yang telah dihadapi oleh
para filsuf sejak dahulu.
C. SIFAT ALKITAB
Alkitab merupakan lahan studi seorang teolog sebagaimana halnya
alam merupakan lahan studi seorang ilmuwan, yaitu seperangkat
fakta-fakta yang tidak teratur atau yang sebagiannya sudah teratur.
Tuhan tidak menganggap perlu untuk menulis Alkitab dalam bentuk
sebuah teologi yang sistematis: jadi, kitalah yang harus mengum
pulkan fakta-fakta yang berserakan dan menatanya sedemikian rupa
sehingga menjadi suatu sistem yang logis. Memang ada ajaran-ajar
an tertentu yang dibahas agak panjang lebar dalam suatu konteks
tunggal; namun tidak ada satu pun ajaran yang telah diulas dan
dibahas secara menyeluruh dalam satu bagian nas Alkitab. Ambil
lah sebagai contoh pembahasan yang agak mendalam dari sebuah
ajaran atau tema dalam nas tertentu: makna kematian Kristus dalam
kelima upacara korban dari Imamat 1-7; keunggulan-keunggulan
Alkitab dalam Mazmur 19, 119; ajaran tentang kemahahadiran dan
kemahatahuan Tuhan dalam Mazmur 139; penderitaan, kematian,
dan pemuliaan Hamba Tuhan dalam Yesaya 53; pemulihan kembali
ibadah bait suci serta tanah air kepada Israel dalam Yehezkiel 40-
48; nubuat-nubuat tentang Masa bangsa-bangsa bukan Yahudi da
lam Daniel 2, 7; kembalinya Kristus ke bumi ini dan peristiwa-
peristiwa yang berkaitan dengan kedatangan ini dalam Zakha
ria 14; Wahyu 19:11-22:6; ajaran tentang oknum Kristus dalam
Yohanes 1:1-18; Filipi 2:5-11; Kolose 1:15-20; Ibrani 1:1-4; ajaran
Yesus mengenai Roh Kudus dalam Yohanes 14-16; kedudukan
orang-orang Kristen bukan Yahudi dalam kaitan terhadap taurat
Musa dalam Kisah 15:1-29, Galatia 2:1-10; ajaran pembenaran oleh
iman dalam Roma 1:17-5:21; kedudukan negara Israel pada masa
kini dan masa datang dalam Roma 9-11; masalah karunia-karunia
Roh dalam I Korintus 12, 14; sifat kasih dalam I Korintus 13; ajaran
tentang kebangkitan dalam I Korintus 15; sifat dari gereja dalam
Efesus 2, 3; keberhasilan-keberhasilan iman dalam Ibrani 11; dan
masalah penderitaan dalam kitab Ayub dan I Petrus. Walaupun
tema-tema itu telah diuraikan secara agak lengkap dalam bagian-
bagian Alkitab ini , tidak satu tema pun diuraikan secara
8 Sifat dan Perlunya Teologi
menyeluruh. Oleh karena itu, bila kita ingin mengetahui seluruh
fakta tentang suatu pokok tertentu maka kita perlu mengumpulkan
ajaran-ajaran yang berserakan tentang pokok tertentu dan kemudian
menatanya menjadi suatu sistem yang logis dan harmonis.
D. PENGEMBANGAN WATAK KRISTEN YANG CERDAS
ada dua pandangan yang salah tentang pokok ini: (1) bahwa
hampir tidak ada atau bahkan tidak ada samasekali kaitan antara
kepercayaan seseorang dengan wataknya, dan bahwa (2) teologi
cenderung mematikan kehidupan rohani. Seorang liberal kadang-
kadang menuduh orang percaya yang ortodoks sebagai bersikap
tidak masuk akal karena mempertahankan kepercayaan tradisional
gereja sementara ia hidup seperti orang kafir. Orang liberal me
negaskan bahwa pernyataan kepercayaan orang ortodoks tidak ber
pengaruh apa-apa terhadap watak dan kelakuannya. Di lain pihak,
orang liberal berusaha untuk menghasilkan kehidupan yang baik
tanpa pernyataan kepercayaan ortodoks. Bagaimana kita menjawab
tuduhan ini? Sekadar menerima seperangkat ajaran secara intelek
tual saja tidaklah cukup untuk menghasilkan buah-buah rohani, dan
sayangnya, terlalu banyak orang hanya memiliki kesetiaan intelek
tual terhadap kebenaran. Akan namun , iman yang benar, yang
meliputi juga intelek, perasaan, serta kehendak, pastilah berdampak
positif terhadap watak dan kelakuan. Manusia bertindak sesuai de
ngan apa yang benar-benar diyakininya, dan bukan menurut apa
yang sekadar dianggap sudah diyakininya.
Bahwa teologi memiliki pengaruh yang mematikan kehidupan
rohani hanya dapat dikatakan benar bila teologi dipelajari sebagai
sekadar teori saja. Bila teologi memiliki kaitan tertentu dengan ke
hidupan, maka tidak mungkin teologi mempunyai pengaruh yang
mematikan kehidupan rohani; sebaliknya, teologi malahan menjadi
penuntun dalam merenungkan secara cerdas masalah-masalah reli
gius dan menjadi pendorong untuk menjalankan kehidupan yang
kudus. Bagaimana mungkin pandangan-pandangan yang benar dan
lengkap tentang Tuhan, manusia, dosa, Kristus, sorga, dan neraka
menghasilkan dampak yang berbeda? Teologi bukan sekadar meng-
ajar kita kehidupan yang bagaimana yang sebaiknya kita jalani, te
tapi juga mendorong kita untuk mewujudkan kehidupan semacam
Sifat dan Perlunya Teologi 9
itu. Patut dicamkan bahwa kebenaran-kebenaran ajaran Alkitab se
ring kali ada dalam bagian yang membicarakan hal-hal praktis
di Alkitab (lihat penjelmaan, II Korintus 8:9; Filipi 2:5-11). Teo
logi tidak sekadar menunjuk kepada norma-norma kelakuan, namun
juga menyajikan alasan-alasan mengapa kita perlu berperilaku se
perti itu.
E. SYARAT-SYARAT BAGI PELAYANAN KRISTEN YANG
EFEKTIF
Orang Kristen harus mengetahui ajaran Kristen. Kristus dan para
rasul-Nya yaitu pengkhotbah-pengkhotbah ajaran Kristen (Markus
4:2; Kisah 2:42; II Timotius 3:10), dan kita juga diamanatkan untuk
mengkhotbahkan ajaran Kristen (II Timotius 4:2; Titus 1:9). Orang
percaya yang dengan saksama telah diindoktrinasi dengan Firman
Tuhan akan mampu menjadi pekerja Kristen yang efektif dan pem
bela iman yang gigih dan tidak kenal gentar. Hanya bila kita me
ngetahui apa yang kita percayai maka kita akan mampu bertahan
terhadap serangan-serangan dari si jahat serta melangkah maju terus
menuju kepada kemenangan yang disediakan Kristus bagi kita.
II Kemungkinan dan Pembagian
Teologi
Setelah menetapkan perlunya teologi,
maka kini kita akan menyaji
kan bukti yang menunjukkan kemungkinan teologi untuk kemudian
menunjukkan pembagian-pembagian teologi yang umum dipakai.
I. KEMUNGKINAN TEOLOGI
Kemungkinan dikerjakannya teologi bersumber pada dua hal: pe-
nyatan Allah dan kemampuan alami manusia. Penyataan Allah di
perlihatkan dalam dua bentuk: umum dan khusus. Kemampuan
alami manusia terdiri atas dua macam: mental dan rohani.
A. PENYATAAN ALLAH
Pascal menyebutkan Tuhan sebagai Deus Absconditus (Allah yang
tersembunyi), namun ia juga beranggapan bahwa Tuhan yang ter
sembunyi ini telah menyatakan diri-Nya, sehingga dengan demikian
dapat dikenal. Ini betul. Pastilah kita tidak dapat mengenal Allah
bila Allah tidak berkenan menyatakan diri-Nya. Namun apa artinya
"penyataan"? Penyataan merupakan tindakan Allah untuk membuka
tabir tentang diri-Nya atau mengkomunikasikan kebenaran kepada
pikiran. Melalui cara ini Ia menyatakan kepada makhluk-makhluk
ciptaan-Nya apa yang tidak mungkin diketahui dengan cara lain.
Penyataan itu mungkin terjadi dalam suatu tindakan tunggal yang
mendadak, atau dapat juga meliputi suatu jangka waktu yang pan
jang; dan berita tentang diri-Nya dan kebenaran-Nya ini dapat
dipahami oleh pikiran manusia dalam berbagai taraf kelengkapan.
11
12 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
Argumen-argumen formal untuk membuktikan keberadaan Tu
han disajikan dalam pasal berikut, namun pembahasan tentang
penyataan Tuhan sangat perlu untuk membuktikan keberadaan-Nya.
Dalam rangka membuktikan mungkinnya dikerjakan teologi, maka
penyataan, baik yang umum maupun yang khusus, harus kita bahas
dahulu.
1. Penyataan Allah yang Umum. Penyataan Allah yang umum
ada di alam, sejarah, dan hati nurani manusia. Penyataan umum
ini disampaikan lewat fenomena alami yang terjadi dalam alam atau
dalam alur sejarah; penyataan itu ditujukan kepada semua makhluk
yang berakal sehingga dapat dipahami oleh semuanya. Penyataan
ini bertujuan memenuhi kebutuhan alami manusia serta meyakinkan
jiwa agar mencari Allah yang benar. Setiap dari ketiga bentuk pe
nyataan ini patut dibahas secara singkat. Pertama, ada penya
taan tentang adanya Allah dalam alam. Semua sarjana ilmu-ilmu
alam yang menolak gagasan tentang adanya Allah dan beranggapan
bahwa alam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan sudah cukup
jelas tidak dapat melihat penyataan Tuhan di dalam alam. Demikian
pula orang panteis tidak dapat melihat penyataan yang benar tentang
Allah di dalam alam. Beberapa tokoh panteisme mengidentikkan
Tuhan dengan "segala sesuatu", "universum", atau "alam"; beberapa
tokoh lainnya berbicara tentang Dia sebagai kekuatan abadi dari
energi yang mempengaruhi semua perubahan yang terjadi di dalam
dunia fenomena, sedangkan yang lain lagi melihat Tuhan sebagai
akal yang mewujudkan diri di alam semesta. Karena tokoh-tokoh
ini beranggapan bahwa dunia merupakan rantai sebab-akibat yang
tertutup, maka mereka tidak menemukan penyataan tentang Allah
yang adikodrati dalam alam semesta. Demikian pula sarjana-sarjana
teologi krisis masa kini tidak memberikan tempat kepada penyataan
Allah dalam alam. Sebagai contoh, Barth beranggapan bahwa ma
nusia telah samasekali kehilangan gambar Allah yang semula se
hingga tanpa tindakan adikodrati dalam setiap kasus individual, ma
nusia tidak mungkin memiliki pengetahuan tentang Allah. Allah ha
rus menciptakan dahulu kemungkinan bagi terjadinya suatu
penyataan serta menyampaikannya kepada manusia. Brunner ber
pendapat bahwa walaupun manusia telah kehilangan isi dari gambar
Allah, manusia tidak kehilangan bentuk gambar ini . Dengan
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 13
demikian, Brunner percaya bahwa manusia menangkap sepercik
pengetahuan tentang Tuhan dalam alam.
Kaum deis, di pihak lain, beranggapan bahwa alam itu merupa
kah penyataan yang serba memadai tentang Tuhan. Mereka me
ngatakan bahwa alam memberikan kepada kita beberapa kebenaran
yang sederhana dan tak berubah tentang Tuhan, kebajikan, keaba
dian, dan imbalan pada masa depan yang begitu jelas sehingga tidak
memerlukan penyataan khusus. Namun, filsafat yang bersifat skep
tis dan kritis telah menunjukkan bahwa tidak pernah ada penyataan
semacam itu dalam alam sebagaimana dikatakan oleh kaum deis.
Apa yang mereka anggap sebagai penyataan dalam alam itu tidaklah
lebih daripada sekadar kebenaran-kebenaran abstrak yang
diperoleh bukan dari alam, namun dari agama-agama lain, khususnya
dari agama Kristen. Pandangan deistis telah diganti dengan keper
cayaan bahwa di alam ini tidak ada penyataan tentang Allah.
Namun, umat manusia pada umumnya senantiasa telah melihat
penyataan tentang Allah dalam alam ini. Beberapa orang yang ber
bakat telah sering mengungkapkan keyakinan mereka dalam bahasa
yang mirip dengan bahasa yang telah dipakai oleh para pemazmur,
nabi, dan rasul (Ayub 12:7-9; Mazmur 8:2-4; 19:2 dst.; Yesaya
40:12-14, 26; Kisah 14:15-17; Roma 1:19 dst.) Penyataan Allah
yang terlihat di alam menunjukkan bahwa Tuhan itu ada dan bahwa
Ia memiliki sifat-sifat seperti kekuasaan, kemuliaan, keilahian, dan
kebaikan. Namun penyataan yang terlihat dalam alam ini terbatas
sifatnya. Sekalipun penyataan itu membuat manusia tidak
bisa mengelak, namun itu tidak dapat menuntun manusia kepada
keselamatan. Bagaimanapun juga penyataan yang umum ini dimak
sudkan untuk mendorong manusia mencari penyataan yang lebih
lengkap tentang Allah serta rencana keselamatan-Nya. Juga
penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Allah kepada
manusia agar kembali kepada-Nya. Selanjutnya, penyataan ini telah
dikaburkan oleh keberadaan kejahatan di dalam dunia.
Selain dari penyataan Allah yang ada dalam alam, juga ter
dapat penyataan Allah dalam sejarah. Pemazmur membuat suatu
pernyataan yang tegas sekali bahwa nasib para raja dan kerajaan-
kerajaan berada di tangan Tuhan saat ia mengatakan, "Sebab bu
kan dari timur atau dari barat, dan bukan dari padang gurun da
tangnya peninggian itu, namun Allah yaitu Hakim: direndahkan
14 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain" (Mazmur 75:7-8;
lihat juga Roma 13:1). Paulus mengatakan bahwa "Dari satu orang
saja Ia (Tuhan) telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia
untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan mu
sim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya
mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemu
kan Dia" (Kisah 17:26-27). Seiring dengan deklarasi ini, sistem
Kristen menemukan dalam sejarah penyataan tentang kuasa dan pe
meliharaan Allah.
Demikian pula, Alkitab berbicara tentang perlakuan Tuhan ter
hadap Mesir (Keluaran 9:13-17; Yeremia 46:14-26; Roma 9:17),
Asyur (Yesaya 10:5-19; Yehezkiel 31:1-14; Nahum 3:1-7),
Babilonia (Yeremia 50:1-16; 51:1-4), Media-Persia (Yesaya 44:24-
45:7), Media-Persia bersama dengan Yunani (Daniel 8:1-21), ke
empat kerajaan yang muncul setelah kerajaan Aleksander Agung
terbagi (Daniel 11:5-35), dan seluruh kerajaan Roma (Daniel 7:7-8,
23-24). Alkitab senantiasa menunjukkan bahwa "kebenaran mening
gikan derajat bangsa, namun dosa yaitu noda bangsa" (Amsal
14:34). Alkitab juga menunjukkan bahwa sekalipun Tuhan dapat
saja, demi perwujudan maksud-maksud-Nya yang kudus dan bijak
sana, membiarkan suatu bangsa yang lebih jahat menguasai yang
tidak begitu jahat untuk sementara, namun pada akhirnya Ia akan
menghukum bangsa yang lebih jahat itu dengan lebih hebat daripada
bangsa yang tidak begitu jahat (Habakuk 1:1-2:20).
Terutama sekali, Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam se
jarah Israel—dalam pengertian Israel tentang Allah dan cara-cara
Tuhan memperlakukan Israel. Mengenai pemahaman Israel tentang
Allah, sangatlah mencolok bahwa saat seluruh dunia terjerumus
ke dalam jurang politeisme dan panteisme, Abraham, Ishak, Yakub,
serta keturunan mereka dapat mengenal Allah sebagai Allah yang
berkepribadian, tak terbatas, kudus dan menyatakan diri, sebagai
pencipta, pemelihara, dan penguasa alam semesta ini (Yosua 24:2).
Bukan saja itu, namun mereka juga memahami bahwa manusia yang
pada mulanya diciptakan menurut gambar Allah, telah jatuh dari
kedudukan yang begitu tinggi dan telah mendatangkan dosa, peng
hukuman. dan kematian atas dirinya dan keturunannya. Dan bahkan
lebih dari itu, bahwa mereka dapat memahami maksud penebusan
Allah dengan perantaraan korban persembahan, pembebasan
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 15
melalui kematian seorang Mesias, penyelamatan semua bangsa, dan
pada akhirnya pemerintahan yang adil dan penuh damai sejahtera.
Semua ini merupakan pemahaman-pemahaman yang sungguh luar
biasa! Akan namun , semua pemahaman ini bukan disebabkan oleh
kehebatan Israel dalam beragama, melainkan karena penyataan
Allah kepada umat-Nya itu. Dikatakan bahwa Allah sendiri menam
pakkan diri kepada para leluhur; memperkenalkan diri-Nya dan
memberi tahu kehendak-Nya melalui mimpi, penglihatan, dan
ekstase; menyampaikan amanat-Nya langsung kepada mereka; dan
mengungkapkan sifat-Nya yang kudus dalam hukum-hukum Musa,
sistem persembahan korban, dan kebaktian dalam kemah perhim
punan dan bait suci.
Penyataan Allah juga terlihat dalam sejarah bangsa Israel. Se
kalipun Israel itu bangsa yang kecil, yang hidup di daerah yang
terpencil, dan hampir tidak memiliki hubungan dagang dengan du
nia di sekitarnya, Israel tetap merupakan bangsa yang diperhatikan
oleh seluruh dunia (Ulangan 28:10). saat Tuhan mengancam akan
menghancurkan bangsa itu di padang gurun akibat dosa hebat yang
telah mereka perbuat, Musa memohon dengan sangat kepada Tuhan
untuk mengasihani bangsa itu karena kehormatan-Nya akan ikut
terlibat dalam hancurnya bangsa Israel (Keluaran 32:12; Ulangan
9:28). Pada waktu Israel taat kepada Tuhan, mereka mengalahkan
tujuh bangsa yang lebih besar daripada mereka (Ulangan 7:1; 9:1;
Yosua 6-12); namun saat mereka mengikuti jalan mereka sendiri,
Allah menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa lain untuk me
nindas dan membuang mereka ke daerah yang jauh. saat mereka
bertobat dan berseru kepada Tuhan, Ia mengutus seorang pembebas
dan memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka.
Rangkaian dosa, pertobatan, dan pembebasan ini terulang berkali-
kali dalam kitab Hakim-Hakim. Daud mengalahkan semua musuh
nya karena ia hidup menurut kehendak Tuhan (II Samuel 7:9-11),
dan semua raja yang saleh menikmati kemakmuran di dalam ne
garanya dan memperoleh kemenangan dalam peperangan terhadap
musuhnya. namun setiap kali bangsa itu menjauh dari Tuhan, me
reka mengalami musim kering berkepanjangan, bencana belalang,
dan kekalahan dalam perang. Oleh karena itu semua, dapat dikata
kan bahwa dalam semua pengalaman Israel Allah menyatakan diri-
Nya bukan saja kepada bangsa itu, namun juga melalui bangsa itu
16 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
kepada seluruh dunia.
Dan akhirnya, Allah dinyatakan dalam hati nurani manusia. Suatu
definisi yang lebih lengkap tentang hati nurani akan disajikan dalam
hubungan dengan sifat moral manusia (Pasal XVI), namun saat ini
cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa hati nurani itu tidaklah
merupakan sesuatu yang berdaya cipta, melainkan lebih tepat di
katakan sesuatu yang mampu membedakan dan mendorong. Hati
nurani menentukan apakah suatu kelakuan atau sikap tertentu se
laras dengan standar moral kita atau tidak dan mendorong kita
untuk melakukan apa yang selaras dengan standar ini serta
menahan diri agar tidak melakukan hal yang bertentangan dengan
nya. Kesadaran tentang benar dan salah yang ada di dalam ma
nusia yang membedakan antara baik dan benar serta mendorong
kita melakukan yang benar itulah yang merupakan penyataan dari
Tuhan. Ini bukan sesuatu yang dibebankan manusia pada dirinya
sendiri, karena jelas bahwa manusia sering kali berusaha untuk
membebaskan diri darinya; hati nurani merupakan pencerminan
Allah dalam jiwa manusia. Sebagaimana cermin dan permukaan air
danau yang tenang mencerminkan matahari serta menyingkapkan
bukan saja keberadaan matahari itu, namun sampai ke taraf tertentu
juga sifatnya, demikian pula hati nurani di dalam manusia menying
kapkan bahwa Allah itu ada dan sampai taraf tertentu juga me
nyingkapkan sifat Allah. Maksudnya, hati nurani menyingkapkan
kepada kita bukan saja bahwa Dia ada, namun bahwa Ia membedakan
secara tajam antara yang benar dan yang salah (Roma 2:14-16),
bahwa Ia senantiasa melakukan yang benar, dan bahwa Ia menuntut
pertanggungjawaban umat ciptaan-Nya untuk selalu melakukan
yang baik dan menjauhi yang salah. Hati nurani juga menyiratkan
bahwa setiap pelanggaran akan dihukum.
Dengan demikian, kita menarik kesimpulan bahwa hati nurani
manusia merupakan penyataan lain dari Allah. Larangan dan perin
tah hati nurani, keputusan dan dorongannya, tidak akan memiliki
wibawa apa pun atas kita bila kita tidak merasa bahwa di dalam
hati nurani kita mengenal realitas, sesuatu di dalam sifat kita yang
pada saat yang sama juga melebihi sifat kita. Dengan kata lain, hati
nurani menunjukkan bahwa ada hukum benar dan salah yang nyata
di alam semesta ini, dan bahwa ada Pembuat hukum tertinggi yang
mewujudkan hukum ini dalam pribadi dan kelakuan-Nya.
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 17
2. Penyataan Allah yang khusus. Yang kami maksudkan dengan
penyataan khusus ialah tindakan-tindakan Allah yang dengannya Ia
memperkenalkan diri-Nya serta kebenaran-Nya pada saat-saat ter
tentu dan kepada orang-orang tertentu. Sekalipun penyataan khu
sus ini diberikan kepada orang-orang khusus dan pada saat-saat khu
sus, penyataan ini tidak selalu diperuntukkan bagi saat dan orang
ini saja. Memang, manusia ditugaskan untuk mengabarkan per
buatan Tuhan serta karya-Nya yang ajaib kepada semua bangsa di
bumi ini (Mazmur 105:1 dst.). Penyataan khusus itu yaitu bagai
kan harta benda yang harus dibagi dengan seluruh dunia (Matius
28:19 dst.; Lukas 2:10; Kisah 1:8). Penyataan khusus itu diungkap
kan kepada manusia melalui berbagai cara: dalam bentuk mukjizat
dan nubuat, dalam diri dan karya Kristus Yesus, dalam Alkitab, dan
dalam pengalaman pribadi. Setiap cara ini akan kita bahas secara
singkat.
Pertama, Allah menyatakan diri-Nya dalam berbagai mukjizat.
Sebuah mukjizat sejati merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa,
yang menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat, serta menying
kapkan kehadiran dan kuasa Tuhan (Keluaran 4:2-5; I Raja-Raja
18:24; Yohanes 5:36; 20:30 dst; Kisah 2:22). Sebuah mukjizat
palsu, bila bukan sekadar tipuan murahan belaka, merupakan
pameran kuasa yang ganjil untuk sekadar berlagak dan mutunya
lebih rendah daripada mukjizat sejati. Mukjizat palsu juga dapat
dilakukan oleh kuasa Iblis dan setan-setan (Keluaran 7:11-22;
Matius 24:24; Kisah 8:9-11; 13:6-8; II Tesalonika 2:9; Wahyu
13:13). Sebuah mukjizat sejati merupakan suatu peristiwa luar biasa
karena bukan merupakan hasil apa yang dinamakan hukum-hukum
alam. Dalam kaitan dengan alam, ada dua macam mukjizat: (1)
mukjizat yang berbentuk peningkatan atau penambahan hukum-
hukum alam, seperti yang terjadi saat air bah, beberapa tulah di
Mesir, kekuatan yang dimiliki Simson, dan lain-lain, dan (2) muk
jizat yang tidak mengikutsertakan unsur-unsur alam yang ada, se
perti saat tongkat Harun berbunga, air yang keluar dari batu
karang, pelipatgandaan roti dan ikan, penyembuhan orang sakit,
kebangkitan orang mati, dan lain-lain. Sering kali saat terjadinya
suatu mukjizat itu sendiri sifatnya ajaib, seperti terlihat dalam peris
tiwa terbelahnya Laut Merah. Sebuah mukjizat sejati menghasilkan
sebuah karya yang praktis dan bermanfaat. Mukjizat-mukjizat Kris
18 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
tus diadakan demi kepentingan orang-orang yang dilayani oleh-
Nya.
Mukjizat-mukjizat yang sejati merupakan penyataan yang khusus
tentang kehadiran dan kuasa Allah. Mukjizat itu membuktikan ke
beradaan, kehadiran, kepedulian, dan kekuasaan-Nya. Boleh
dikatakan bahwa pada saat sebuah mukjizat sejati terjadi, Tuhan
keluar dari persembunyian-Nya dan menunjukkan kepada manusia
bahwa Ia itu Allah yang hidup, bahwa Ia masih bertakhta menguasai
alam semesta, dan bahwa Ia cukup mampu untuk mengatasi semua
masalah yang dihadapi umat manusia. Bila sebuah mukjizat tidak
menghasilkan keyakinan seperti itu tentang Tuhan, mungkin muk
jizat itu tidak sejati.
Golongan berpaham naturalistis, panteistis, dan deistis semuanya
secara apriori menolak adanya mukjizat. Bagi mereka alam semesta
merupakan sebuah mesin yang dapat memelihara diri dengan
usahanya sendiri. Mukjizat bagi mereka itu mustahil karena diang
gap melanggar hukum-hukum alam, dan selanjutnya, mukjizat bagi
mereka tidak masuk akal karena bertolak belakang dengan penga
laman manusia. Pendapat semacam ini dapat dijawab sebagai
berikut. Dasar pemikiran pertama secara salah beranggapan bahwa
hukum-hukum alam dapat berdiri sendiri dan tanpa pengaruh,
pengarahan, dan pemeliharaan dari luar. Yang benar ialah bahwa
hukum-hukum alam itu tidak sepenuhnya dapat berdiri sendiri
karena kuasa saja tidak dapat memelihara dirinya dan tidak dapat
bekerja menurut maksud tertentu; untuk itu diperlukan suatu kuasa
yang tak terbatas dan berakal; dan kuasa itu searah dalam segenap
kegiatannya, baik yang berkaitan dengan benda maupun yang ber
kaitan dengan akal, tanpa merusak semuanya itu. Akan namun , de
ngan tindakan-tindakan jahat, Tuhan hanya searah sejauh itu
berupa tindakan-tindakan alami, dan bukan karena sifat jahat tin
dakan-tindakan itu. Dan jika Tuhan melakukan hal itu dalam pelak
sanaan hukum-hukum alam yang umum, mengapa kita mengang
gapnya sebagai pelanggaran hukum alam bila dalam pelaksanaan
yang luar biasa Ia berkenan meningkatkan atau menambahkan ke
kuatan hukum-hukum alam, bertindak tidak searah dengan hukum-
hukum itu atau bertindak terlepas dari hukum-hukum alam ini ?
Dasar pemikiran kedua bahwa mukjizat itu tidak masuk akal ka
rena bertolak belakang dengan pengalaman manusia, secara salah
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 19
beranggapan bahwa kita perlu melandaskan semua keyakinan kita
pada pengalaman manusia dewasa ini saja. Para pakar geologi mem
beri tahu bahwa pada masa silam telah terjadi kegiatan-kegiatan
yang hebat pada zaman es sehingga terbentuklah lautan dan teluk;
kita tidak menyaksikannya pada zaman kita, namun kita menerima
keterangan itu. Penyataan Allah yang menyingkapkan diri lewat
alam, sejarah, dan hati nurani seharusnya menuntun kita kepada
kenyataan bahwa mukjizat bisa saja terjadi pada berbagai waktu.
Mukjizat tidak bertolak belakang dengan pengalaman manusia
kecuali itu bertolak belakang dengan semua pengalaman manusia
dahulu dan sekarang. Kenyataan ini membuka pintu lebar-lebar
bagi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi yang dapat ditunjang oleh
bukti-bukti yang memadai.
Lagi pula, para pakar geologi secara terus terang mengakui bah
wa kehidupan di atas planet ini tidak berawal di dalam kekekalan.
Mereka tidak memiliki bukti kuat yang meyakinkan tentang asal
mula hidup ini. Namun kehidupan ini pasti tidak berasal dari sesuatu
yang mati; kehidupan hanya dapat berasal dari kehidupan. Dengan
demikian, masuknya hidup ke planet ini merupakan bukti tersendiri
tentang adanya mukjizat.
Dan kini, secara positif, kita mengatakan bahwa bukti adanya
mukjizat bertumpu pada kesaksian. Kepercayaan dilandaskan pada
apa yang kita anggap sebagai kesaksian yang benar. Betapa sedikit
nya sejarah yang kita ketahui bila kita mempercayai hanya hal-hal
yang kita amati dan alami sendiri! Mukjizat-mukjizat dalam Alkitab
bertumpu pada kesaksian yang sah. Tidak mungkin kita meneliti
bukti-bukti semua mukjizat itu dalam buku ini, dan hal ini juga
tidak perlu; bila kita dapat membuktikan sebuah mukjizat yang ter
golong paling penting dalam Alkitab, maka kita sudah membuka
jalan bagi penerimaan mukjizat-mukjizat lainnya.
Kebangkitan jasmani Kristus merupakan salah satu fakta yang
paling terbukti dalam sejarah.1 Hampir semua catatan yang mengi
sahkan kebangkitan Kristus ditulis dalam jangka waktu 20-30 tahun
setelah peristiwa ini ; semuanya meyakinkan kita bahwa Kris
tus benar-benar mati dan dikuburkan; bahwa sekalipun para peng
ikut-Nya tidak mengharapkan Kristus bangkit, banyak di antara me
1 Untuk suatu studi yang terinci tentang bukti-bukti lihat McDowell, Evidence that
Demands a Verdict, hal. 185-273.
20 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
reka melihatnya dalam keadaan hidup beberapa hari setelah penya
liban-Nya; bahwa mereka begitu yakin akan kebangkitan-Nya
sehingga sebulan setengah kemudian mereka dengan berani mem
beritakan peristiwa ini di depan umum di Yerusalem; tidak
pernah peristiwa itu diragukan saat disebutkan pada zaman rasuli
baik saat itu maupun kemudian hari; tidak ada bukti yang menyang
gah kebenarannya telah sampai kepada kita sekarang ini; bahwa
para murid mengorbankan kedudukan sosial, harta benda, dan bah
kan nyawa mereka sendiri untuk menyaksikan kebangkitan Kristus
ini; bahwa Paulus tidak berusaha membela kenyataan kebangkitan
ini, namun memakainya sebagai bukti bahwa semua orang percaya
suatu hari akan dibangkitkan juga; dan bahwa di dalam Gereja, Per
janjian Baru, serta Hari Tuhan kita memiliki kesaksian yang men
dukung bahwa peristiwa akbar ini benar-benar terjadi. Dan bila ke
bangkitan Kristus merupakan fakta sejarah maka jalan telah terbuka
untuk menerima mukjizat-mukjizat lainnya.
Dan akhirnya, kita percaya bahwa mukjizat masih saja terjadi.
Mukjizat-mukjizat itu bahkan juga tidak bertolak belakang dengan
pengalaman hidup sehari-hari. Semua orang Kristen memberi ke
saksian bahwa Tuhan menjawab doa-doa yang dipanjatkan. Dan
bahkan, mereka yakin bahwa Tuhan telah mengadakan mukjizat
demi kepentingan mereka, atau demi kepentingan beberapa sahabat
yang mereka doakan. Mereka yakin bahwa hukum-hukum alam se
mata tidak dapat menjelaskan hal-hal yang telah mereka saksikan
dengan mata kepala mereka dan juga alami dalam kehidupan me
reka sendiri. Perlawanan yang hebat sekalipun dari orang-orang
yang tidak percaya tak dapat membuat mereka berpikir lain. Secara
lebih khusus lagi, kita berkali-kali dapat melihat mukjizat pemba
haruan yang sampai kini pun masih tetap berlangsung. Kita tidak
dapat mengubah warna kulit kita, demikian pula macan tutul tak
dapat mengubah belangnya, namun Tuhan dapat dan memang
mengubah hati serta menghilangkan segala cacat cela dari kehidup
an orang berdosa. Kita akan membahas mukjizat ini secara lebih
mendalam lagi saat membahas penyataan Allah dalam pengalam
an pribadi orang Kristen. Cukuplah kiranya untuk dikatakan saat
ini bahwa jawaban-jawaban terhadap doa serta pengalaman pem
baharuan membuktikan bahwa mukjizat masih berlangsung hingga
saat ini.
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 21
Selanjutnya, Allah menyatakan diri dalam nubuat. Nubuat yang
dimaksudkan di sini yaitu pemberitahuan terjadinya suatu peris
tiwa sebelum peristiwa itu sendiri terjadi, bukan melalui wawasan
manusia atau kemampuan terus pandang, melainkan melalui pem
beritahuan langsung dari Tuhan. Akan namun , karena kita tidak tahu
apakah nubuat itu telah disampaikan secara langsung dari Tuhan
sampai saat nubuat itu digenapi (Ulangan 18:21 dst.), nilai nubuat
yang langsung sebagai bukti kehadiran dan kebijaksanaan Tuhan
itu bergantung pada soal apakah orang yang menyampaikan nubuat
ini memiliki persekutuan yang hidup dan nyata dengan Tuhan.
Hal ini dapat ditetapkan hanya atas dasar ajaran-ajaran serta ke
salehan kehidupan orang yang menyampaikan nubuat ini
(Ulangan 13:1-3; Yesaya 8:20; Yeremia 23:13 dst.). Dalam Perjan
jian Lama "nabi-nabi palsu digambarkan sebagai pusing karena arak
dan pening karena anggur (Yesaya 28:7), pezinah (Yeremia 23:14),
pengkhianat (Zefanya 3:4), pendusta (Mikha 2:11), dan oportunis
(Mikha 3:11)."2 Nabi yang sejati tidak memiliki ciri-ciri ini.
2 Tan, The Interpretation of Prophecy, hal. 79.
Mengenai apa yang nampaknya merupakan penggenapan nubuat,
perlu dilakukan beberapa ujian tertentu sebelum peristiwa ini
dapat diterima sebagai nubuat yang sesungguhnya. Misalnya, kita
harus menentukan dahulu apakah nubuat itu cukup jauh dari peris
tiwa yang dinubuatkannya sehingga menutup kemungkinan nubuat
ini merupakan hasil wawasan atau kemampuan terus pandang
manusia. Orang-orang Yahudi pada masa Yesus Kristus, tidak dapat
mengenal tanda-tanda zaman, yaitu bahwa tentara Romawi akan
datang dan menghancurkan kota dan negara mereka, namun banyak
negarawan dapat melihat dan meramalkan masa depan dengan cu
kup tepat juga. Ramalan semacam itu, sekalipun cukup jitu, tidak
dapat disebut sebagai nubuat. Kita juga harus meneliti bahasa yang
dipakai saat nubuat itu diucapkan untuk mengetahui apakah ba
hasa ini mengandung dua arti dan dapat ditafsirkan dengan
berbagai penjelasan. Sebuah ucapan nubuat tidak boleh mengan
dung dua arti sebelum dapat dianggap sebagai sebuah nubuat yang
benar. Dengan jelas Nabi Yesaya bernubuat tentang Raja Koresy
pada 150 tahun sebelum ia (Koresy) naik takhta (Yesaya 43:28-
45:7; bandingkan dengan Ezra 1:1-4). Young menulis, 'Tentu saja
22 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
Yesaya sendiri tidak dapat mengetahui nama raja ini , namun
sebagai seorang nabi sejati yang diilhami oleh Roh Kudus, Yesaya
dapat menyebutkan nama Koresy dengan pasti."3
Keberatan-keberatan yang telah diajukan terhadap nubuat dapat
ditanggapi dengan cara yang sama sebagaimana menanggapi kebe
ratan-keberatan terhadap mukjizat. Dengan nyata sekali Kristus
merupakan terang yang menerangi setiap orang (Yohanes 1:9).
Karena Allah merupakan pencipta dan pemelihara pikiran manusia,
tidak ada apa-apa dalam kesadaran manusia yang terlepas dari
Tuhan. Allah bekerja sama dengan pikiran manusia sebagaimana
Allah bekerja sama dengan hukum alam, yaitu tanpa menghan
curkan keduanya dan juga tanpa terlibat dalam dosa. Dan bila Tuhan
bertindak demikian dalam proses-proses pikiran yang umum, tidak
lah aneh bila Tuhan sekali-sekali melampaui proses pikiran itu dan
bertindak terlepas darinya. Terhadap kemungkinan terjadinya
nubuat ini dapat ditambahkan bukti langsung dari penggenapan
nubuat. Tidak perlu kita membuktikan penggenapan semua nubuat
yang ada dalam Alkitab; beberapa di antaranya bahkan belum
digenapi, namun kami bermaksud menjelaskan satu jenis nubuat yang
jelas telah digenapi. Bila daftar ayat-ayat berikut ini dapat ditun
jukkan sebagai nubuat yang benar, maka tidak ada seorang pun
yang dapat berkata bahwa komunikasi langsung dari Tuhan itu mus
tahil dan tidak dapat terjadi.
Jenis nubuat ini yaitu nubuat-nubuat tentang kedatangan Kristus
yang pertama kalinya. Menganjurkan bahwa nubuat-nubuat itu me
rupakan hasil kemampuan terus pandang manusia atau sekadar se
buah kebetulan yang cocok merupakan suatu kemustahilan yang
lebih besar daripada menganggapnya sebagai suatu penyataan lang
sung dari Tuhan. Perhatikanlah beberapa nubuat tentang Kristus
yang telah digenapi. Dinubuatkan bahwa Kristus akan (1) dilahirkan
oleh seorang perawan (Yesaya 7:14; Matius 1:23), (2) merupakan
keturunan Abraham (Kejadian 12:3; Galatia 3:8), (3) dari suku
Yehuda (Kejadian 49:10; Ibrani 7:14), (4) merupakan keturunan
Daud (Mazmur 110:1; Roma 1:3), (5) lahir di Betlehem (Mikha
5:1; Matius 2:6), (6) diurapi oleh Roh (Yesaya 61:1 dst.; Lukas
4:18 dst.). Kristus akan (7) memasuki Yerusalem naik keledai (Za-
3 Young, The Book of Isaiah, III, hal. 192.
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 23
kharia 9:9; Matius 21:5), (8) dikhianati oleh teman-Nya (Mazmur
41:10; Yohanes 13:18), (9) dijual untuk tiga puluh uang perak (Za
kharia 11:12 dst; Matius 26:15; 27:9 dst), (10) ditinggalkan oleh
murid-murid-Nya (Zakharia 13:7; Matius 26:31, 56), (11) tangan
dan kaki-Nya dipaku, namun tidak ada satu pun tulang yang dipatah
kan (Mazmur 22:17; 34:21; Yohanes 19:36; 20:20, 25). Orang akan
(12) memberi-Nya minum anggur asam bercampur empedu (Maz
mur 69:22); Matius 27:34), (13) mengambil pakaian-Nya serta
membuang undi (Mazmur 22:19; Matius 27:35). Kristus akan (14)
ditinggalkan oleh Allah (Mazmur 22:2; Matius 27:46), dan (15)
dikuburkan di kubur orang kaya (Yesaya 53:9; Matius 27:57-60).
Kristus akan (16) bangkit dari kematian (Mazmur 16:8-11), (17)
naik ke sorga (Mazmur 68:19; Efesus 4:8), dan (18) duduk di se
belah kanan Allah Bapa (Mazmur 110:2; Matius 22:43-45).
Bukankah nubuat-nubuat yang telah digenapi ini merupakan bukti
yang kuat bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya lewat nubuat?
Bila Allah telah melakukan hal ini dalam nubuat-nubuat ini ,
kita dapat mengharapkan bahwa Tuhan juga menyatakan diri dalam
nubuat-nubuat mengenai hal-hal lainnya juga.
Tambahan pula, Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Anak-
Nya Yesus Kristus. Penyataan umum tentang Allah tidak menuntun
dunia bukan Yahudi kepada pemahaman yang jelas akan keber
adaan Allah, sifat Allah, dan kehendak-Nya (Roma 1:20-23); bah
kan filsafat sekalipun tidak mampu memberikan pemahaman yang
benar tentang Tuhan. Paulus menulis, "Oleh karena dunia, dalam
hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya" (I Korintus
1:21). Paulus kemudian menandaskan bahwa kebijaksanaan yang
sejati "tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab
kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan
Tuhan yang mulia" (I Korintus 2:8). Sekalipun ada penyataan
Allah yang umum lewat alam, sejarah, dan hati nurani manusia,
namun dunia bukan Yahudi mengarahkan pandang












