Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 21

  


SEJARAH PERANG SALIB 

Pengertian Perang Salib 

 

 Perang salib (The Crusades) 

merupakan perang keagamaan 

selama dua abad yang terjadi 

sebagai reaksi umat Kristen di Eropa 

terhadap umat Islam di Asia yang 

dianggap sebagai pihak penyerang.  

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 

Agama: 

  pihak kristen merasa tidak 

bebas menunaikan ibadah 

kebaitulmakdis, sejak dinasti 

seljuk merebutnya dari 

dinasti fatimiyah 

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 

  politik: 

 Kekalahan Bizantiumtahun 

1071 M di Manzikart 

(Malazkird atau Malasyird, 

Armenia) dan Asia Kecil jatuh 

ke bawah kekuasaan Seljuk 

 

 

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 Faktor Sosial Ekonomi 

 Apabila Kristen Eropa menang 

maka pedagang-pedagang besar 

di pantai timur Laut Tengah 

terutama yang berada di kota 

Venezia, Genoa dan Pisa akan 

menjadikan kawasan itu sbg 

pusat perdagangan 

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 Faktor Sosial Ekonomi 

 Rakyat jelata dimobilisasi 

untuk ikut perang salib 

dijanjikan kebebasan dan 

kesejahteraan yang lebih baik 

bila menang perang. 

Pengaruh Perang Salib 

 

 

  Walaupun umat Islam menang, 

tetapi umat Islam menderita 

kerugian yang luar biasa karena 

peperangan itu berlangsung di 

dunia Islam. 

 

 

Pengaruh Perang Salib 

 

Hubungan Perang Salib dengan 

Orientalisme  

Hubungan Perang Salib dengan 

Kolonialisme 

Hubungan Perang Salib dengan 

Kristenisasi 


 
Perang salib yaitu  gabungan koperatif pertama barat baru ketika bangkit dari 
zaman kegelapan. Semua kelas yang diwakili para pendeta dan wali gereja serta 
bangsawan dan rakyat jelata terbakar oleh kecintaan terhadap yerussalem. Dinamakan 
perang salib sebab  dalam peperangan ini  tentara Kristen memakai salib sebagai 
symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa perang ini  yaitu  perang suci. 
Tidak hanya faktor keimanan kekristenan dan mencari kekayaan yang mendorong 
tentara salib untuk mengikuti perang, tetapi juga faktor yang mendukunh mereka yang 
terlibat dalam peperangan, di antaranya faktor sejarah, faktor agama, faktor politik, 
serta faktor sosial-ekonomi. 
Perang yang terjadi selama kurang lebih dua abad itu banyak memicu  
perbedaan catatan sejarah mengenai terjadinya.  
 

A. pemicu  Terjadinya Perang Salib 
 
Perang Salib (1096-1291) terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap 
umat Islam di Asia, yang menganggap umat Islam sebagai penyerang di Siria dan Asia 
Kecil juga di Spanyol dan Sisilia sejak tahun 632 M. Disebut Perang Salib, sebab  
ekspedisi militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk 
menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan yaitu  perang suci yang 
bertujuan untuk membebaskan kota suci Yerussalem (Baitul Maqdis) dari tangan 
orang-orang Islam. 
pemicu  langsung terjadinya Perang Salib yaitu  permintaan Kaisar Alexius 
Connenus kepada Paus Urbanus II pada tahun 1095. Kaisar dari Bizantium meminta 
bantuan dari Romawi sebab  daerah-daerah kekuasaanya yang tersebar sampai ke 
pesisir Laut Marmora dibinasakan oleh Bani Saljuk. Bahkan, kota Konstantinopel 
diancamnya pula. Adanya permintaan ini, Paus melihat kemungkinan untuk 
mempersatukan kembali gereja Yunani dengan gereja Romawi yang telah terpecah 
tahun 1009-1054. 
Isi pidato yang menyulut Perang Salib terjadi pada 26 November  1095 Paus 
Urban menyampaikan pidatonya di Clermont, Perancis dan memerintahkan orang-
orang Kristen agar “Memasuki lingkungan Makam Suci, merebutnya dari orang-orang 
jahat dan menyerahkanya kembali kepada mereka”. Mungkin, inilah pidato paling 
berpengaruh sepanjang catatan sejarah. Orang-rang yang hadir disana meneriakan 
slogan Deus Vult (Tuhan menghendaki) sambil mengacungkan tangan. Pada tahun 
1097, 150.000 manusia, yang terdiri dari sebagian orang Franka, Norman, dan sebagian 
lagi rakyat biasa menyambut seruan untuk berkumpul di Konstantinopel.1 
pemicu  lain Perang Salib yaitu  faktor agama, politik, dan sosial ekonomi. 
Fakto-faktor ini  merupakan faktor utama yang menyebabkan Perang Salib, yang 
dapat diuraikan sebagai berikut. 
1. Faktor Agama 
                                                        
Sejak Dinasti Saljuk merebut Bait al-Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah 
pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke 
sana. Hal ini terjadi sebab  penguasa Saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang 
dianggap mempersulit orang Kristen yang akan menjalankan ibadah di Bait al-
Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh sebab  
mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang Saljuk yang fanatik. Umat Kristen 
mersa diperlakukan para penguasa Dinasti Saljuk sangat berbeda dari penguasa 
Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya. 
2. Faktor Politik 
Jatuhnya wilayah kekuasaan Bizantium di Asia Kecil ke tangan Saljuk telah 
mendorong Kaisar Alexius I meminta bantuan kepada Paus Urbanus II untuk 
mengembalikan wilyah kekuasaanya dari tangan Saljuk. Adanya janji Kaisar 
Alexius I untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk 
mempersatukan gereja Yunani dan Roma membuat Paus Urbanus II bersedia 
membantu Bizantium. 
Di sisi lain, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah. Ketika 
itu Dinasti Saljuk di Asia Kecil mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir 
sedang dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin 
goyah. Terjadinya pertentangan antara Khalifah Fatimiyah di Mesir, Khalifah 
Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan 
dirinya sebagai khalifah semakin memperburuk keadaan.2 
3. Faktor Sosial Ekonomi 
Para pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Mediterania, terutama 
yang berada di kota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai 
sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Mediterania 
untuk memperluas jaringan perdagangan mereka. Untuk itu, mereka perlu 
menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu 
sebagai pusat perdagangan mereka bila Kristen Eropa memperoleh kemenangan.  
 
B. Periodesasi Perang Salib 
Perang Salib ini berlangsung selama dua ratus tahun dan terbagi dalam tujuh 
ekspedisi. Terdapat banyak versi mengenai periodesasi Perang Salib, ada yang 

mengatakan periode Perang Salib memiliki tiga, tujuh, delapan, maupun sembilan 
periode. Berikut pemakalah akan menjelaskan tujuh periodesasi Perang Salib dan 
sekilas menjelaskan tiga periode Perang Salib. 
1. Perang Salib Pertama 
Perang Salib pertama ini dilancarkan pada tahun 1095 M oleh Paus Urbanus 
II untuk menguasai kota suci Yerussalem. Di daerah Anadhul pasukan Salib 
bertemu dengan Dinasti Saljuk dan berhasil memusnahkan mayoritas Saljuk dan 
kemudian melanjutkan perjalanannya ke perbatasan Anadhul Timur dan Suriah. 
Setelah pasukan Salib dipecah menjadi tiga bagian. Bagian pertama, menuju Timur 
dan menduduki kota Raha (Edessa) pada tahun 1098 M dan mendirikan Dinasti 
Salib di bawah pimpinan Baldwin I. Bagian kedua menuju ke Selatan dan 
memasuki Suriah kemudian menduduki Antakia pada tahun 1098 M serta 
mendirikan Dinasti Salib di bawah pimpinan Bohemond II. Pasukan Salib 
kemudian bergerak menuju Yerussalem, mengepungnya dengan rapat dan 
mendudukinya pada tanggal 15 Juli 1099 M. Mereka melakukan pembantaian 
terhadap warga  kota suci itu, kemudian pasukan salib mendirikan kerajaan salib 
yang dipimpin oleh Laoren Godfrey.  
2. Perang Salib Kedua 
Penguasa Mosul, Imaduddin Zanki, melakukan penyerangan untuk merebut 
kota Raha dari tangan kekuasaan kaum salib pada tahun 1144. Untuk itulah, kaum 
nasrani lalu melakuan ekspedisi kedua dan penyerangan kembali terhadap 
kekuasaan umat Islam dibawah pimpinan Raja Jerman Condrad II dan Raja 
Perancis Louis VII. Namun kaum salib kalah dan kembali pulang, mereka gagal 
mereut Damaskus setelah mengepungnya.3 
3. Perang Salib Ketiga 
Setelah perang Hittin berlangsung, Salahuddin al-Ayyubi menyerang Bait al-
Maqdis dengan maksud merebutnya dari tangan kaum salib pada tahun 1188 M. 
Selanjutnya muncullah ekspedisi perang salib ketiga yang dipimpin oleh Frederick 
Barbarosa I Raja Jerman, Philip August Raja Perancis, dan Richard Raja Inggris. 
Raja Jerman melewati jalur Konstantinopel sampai Anadhul, akan tetapi dia  
tenggelam saat menyebrangi sungai Kilikia sehingga pasukanya kocar-kacir. 
Sementara, Philip August jatuh sakit sehingga ia kembali pulang ke Perancis. 
                                                          
Akhirnya, Raja Richard yang sendirian melakukan perjanjian damai dengan 
Salahuddin al-Ayyubi.4 
4. Perang Salib Keempat 
Pasukan Salib kembali melancarkan penyerangan dengan tujuan untuk 
menguasai Mesir pada tahun 598 H/ 1202 M. Penyerangan ini dipimpin oleh 
beberapa gubernur Perancis, antara lain: Tabu II(Gubernur Sambani), Baldwin IX 
(Gubernur Flanders), Louis (Gubernur Balo) dan masih banyak lagi yang lainnya. 
Para Gubernur itu melakukan perjanjian dengan para pemilik senapan, bahwa 
mereka akan dipindahkan ke Iskandariyah. Ketika itu Salahudin mengetahui 
perjanjian ini , kemudian memberikan fasilitas lebih kepada para pemilik 
senapan itu sehingga para pemimpin salib berpindah ke Konstantinopel. Akhirnya 
mereka menguasai kota itu dengan mendirikan dinati Latiniyah dan memilih 
Baldwin IX sebagai raja.  
5. Perang Salib Kelima 
Perang salib kelima ini terjadi pada tahun 615 H/ 1219 M dengan dibawah 
komando Raja Baitul Maqdis, Jan De Barman. Mereka kemudian mengarahkan 
pasukannya ke wilayah Mesir, dan menguasai kota Dimyat. Akan tetapi, pasukan 
salib ini dapat dikalahkan oleh warga  oleh Mesir dan Dimyat kembali ke 
tangannya, dan akhirnya kaum salib diusir untuk meninggalkan Mesir. 
6. Perang Salib Keenam 
Pada tahap keenam, pasukan salib menuju ke Suriah melalui jalur laut yang 
dipimpin oleh Raja Frederick II dari Jerman pada tahun 625 H/ 1228 M. Al-Kamil 
Raja Mesir kemudian meminta bantuan kepada Frederick II agar merebut 
Damaskus dari kekuasaan saudaranya, Raja Isa. Syaratnya yaitu  al-Kamil 
menyerahkan Baitul Maqdis kepada Frederick. Pasukan salib sampai di Akka 
ketika Raja Isa telah meninggal dunia dan digantikan anaknya, Raja al-Manshur 
Dawud. Ia kemudian berdamai dengan pamannya, al-Kamil dan  menyerahkan 
Damaskus kepadanya. Akhirnya al-Kamil menduduki Damaskus, Sharkhad, 
Syaubik, dan Karak. Kemudian al-Kamil menyerahkan Baitul Maqdis kepada 
Frederick II sehingga pasukan salib pun memasuki kota suci al-Quds dan berhasil 
menguasainya. 
7. Perang Salib Ketujuh 
                                                         
 
Pada perang salib ketujuh, ekspedisi salib dipimpin oleh Louis IX raja 
Perancis bersama-sama dengan orang-orang suci. Dia membawa pasukanya ke arah 
Mesir untuk merebut Baitul Maqdis. Melalui pasukan laut yang dikerahkannya ke 
Mesir, Louis IX berhasil menguasai Dimyat pada tahun 646 H/ 1249 M. Tetapi 
ketika ia berperang melawan Mesir pada masa akhir pemerintahan Raja Saleh 
Najmuddin Ayyub dan isterinya Syajar al-Durr, ia malah tertawan bersama dengan 
beberapa panglimanya dan warga  Mesir menang dalam pertempuran itu. Lalu 
terjadi negosiasi dan disepakati Louis IX dilepas dengan tebusan harga yang sangat 
mahal.
Para sejarawan memang saling berbeda pendapat dalam menentukan periodesasi 
Perang Salib. Philip K. Hitti memandang Perang Salib berlangsung terus-menerus 
dengan kelompok yang bervariasi, kadang berskala besar dan terkadang berskala kecil. 
Menurut Hitti yang membagi periodesasi Perang Salib dengan menyederhanakan 
pembagianya dalam tiga periode. 
Periode pertama, disebut periode penaklukan (1096-1144 M.). Adanya hubungan 
kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan 
semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II di Clermont tanggal 26 
November 1095. 
Periode kedua,  disebut periode reaksi umat Islam (1144-1192 M.). jatuhnya 
wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum 
Muslimin untuk menghimpun kekuatan dalam menghadapi mereka. Di bawah komando 
Imaduddin Zanki, Gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung 
serangan pasukan Salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa 
pada 1144 M. 
Periode ketiga (1193-1291) lebih dikenal dengan periode perang saudara kecil-
kecilan atau periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan sebab  
periode ini lebih disemangati oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan 
sesuatu yang bersifat material daripada motivasi agama. Dalam periode ini, muncul 
pahlawan wanita dari kalangan kaum Muslimin terkenal pemberani, yaitu Syajar al-
Durr. Ia behasil menghancurkan pasukan Raja Louis IX dari Perancis sekaligus 
menangkapnya dan kemudian membebaskan dan mengizinkannya kembali ke Perancis. 

C. Dampak Perang Salib 
 
Pada saat perang salib berlangsung, bangsa eropa mengambil begitu banyak 
manfaat dari khazanah kekayaan timur, khusunya pada sisi pemikiran dan keilmuan. 
Sebab, pada saat itu dalam bidang keilmuan dan peradaban, bangsa-bangsa timur jauh 
lebih unggul disbanding bangsa eropa. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor 
terjadinya renaisans. Berikut ini yaitu  beberapa bidang yang mengalami kemajuan 
disebabkan persentuhan eropa dengan peradaban islam, 
1. Kedoktertan. Pada saat itu, gereja melarang praktik medis sebab  keyakinan 
mereka bahwa penyakit yaitu  sanksi dari tuhan yang tidak boleh dihindari 
manusia dan seseorang yang sakit memang layak menerimanya. Di tengah 
kebodohan itu, kaum muslim melakukan berbagai terobosan medis, yaitu dengan 
menerjemahkan berbagai macam buku induk dalam bidang kedokteran yang 
berasal dari Persia, yunani, Hindustan ke dalam bahasa arab. Bukan hanya itu 
mereka juga menyusun buku induk sendiri yang tidak pernah tertandingi keluasan 
cakupannya dan kerincian kandungannya.  
2. Bidang matematika. Jauh sebelum terjadinya renaisans di eropa, kaum muslim 
sudah menguasai ilmu matematika, astronomi, kimia, botani, biologi, metalurgi, 
dan farmasi dengan sangat baik. Kaum muslim sudah menguasai sangat baik dan 
melakukan penerjemahan besar-besaran hamper semua literature ilmiah dari 
yunani, romawi, Persia, dan Hindustan dalam bahasa arab.  
3. Pertanian dan perdagangan. Eropa mengalami kemajuan yang sangat signifikan. 
Kemudian, beberapa penemuan dari orang islam, seperti kompas pelaut dan kincir 
angin terus mereka kembangkan. Dalam bidang perdagangan, orang-orang eropa 
mendirikan pasar khusus tiruan dari orang islam yang mereka adopsi.
Perang Salib ini  merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan, sebab  
kekuatan non muslim yang di wilayah Eropa bersatu-padu untuk menghancurkan dan 
meluluhlantakan kerajaan-kerajaan Islam pada masa itu. Sementara umat Islam sendiri 
sedang mengalami konflik internal, memperebutkan kekuasaan dan bahkan saling 
membunuh antar sesamanya. Baitul Maqdis di Yerussalem menjadi sasaran utama dalam 
perang salib ini. Mengingat keduanya yakni kaum Muslimin dan nasrani sama-sama 
mengklaim sebagai kota suci mereka. 
Dalam peristiwa Perang Salib ini , masing-masing yang telibat kaum 
Muslimin dan nasrani mengalami pasang-surut dan saling bergantian dalam hal 
kemenangannya. 
  
Abad pertengahan menunjuk pada periode dalam sejarah Eropa, antara zaman Eropa kuno dan 
zaman modern. Keruntuhan Kekaisaran Romawi pada tahun 470 M. Dianggap sebagai awal 
periode sejarah ini, sedang masa renaisans dianggap sebagai akhirnya. 
Abad pertengahan sendiri dibagi menjadi tiga tahap: tahap awal atau sering disebut abad 
kegelapan, tahap perkembangan, dan tahap akhir. Istilah abad pertengahan awalnya digunakan 
oleh kaum humanis pada akhir abad ke-15 M untuk menyebut periode antara zaman kebudayaan 
klasik hellenis/Yunani dan zaman kebangkitan kembali kebudayaan itu. 
Kondisi Eropa pada Abad Pertengahan 
ilustrasi warga  Eropa abad pertengahan  
Sejak Kekaisaran Romawi mengalami kemunduran dan keruntuhan, tidak ada imperium Eropa 
yang dapat mengisi kekosongan kekuasaan politik tersebut. Raja dan dinasti silih berganti berkuasa 
antara lain dinasti Meroving, Frankia, Kapet, Otto dan Hohenstaufen. Namun, kekuasaan mereka 
pada umumnya tidak berlangsung lama. Di antara para penguasa itu, hanya Karel Agung atau 
Charlemagne dari Frankia yang memerintah cukup lama dan baik. Ia berhasil melebur daerah-
daerah yang luas di Eropa menjadi satu imperium yang kokoh. 
Meskipun demikian, tidak dapat dinafikan pada abad pertengahan kota-kota Eropa mengalami 
kehancuran. Kota-kota itu menjadi tidak aman sebab  menjadi sasaran penyerbuan, perampokan, 
pemerkosaan, dan pembunuhan. Akibatnya, warga kota terpaksa meninggalkan rumah dan 
memencar ke  wilayah pedalaman. 
Di pedalaman mereka bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kota Roma, kota terbesar di 
Barat dengan warga hampir satu juta jiwa, bahkan berubah menjadi kota sepi yang 
berwarga hanya beberapa ribu jiwa. Sementara kehidupan mereka cukup memprihatinkan. 
Pada masa itu berkembang sistem feodalisme dengan pertanian sebagai pusat kehidupan. 
warga  hidup dalam berbagai kelompok, yakni bangsawan sebagai tuan tanah, orang bebas 
yang menjadi golongan  ksatria pengabdi bangsawan, dan petani yang hidup memprihatinkan dan 
bergantung pada bangsawan. 
warga  zaman pertengahan pada umumnya tidak mengenal pemerintah pusat. Mereka hanya 
bertanggung jawab kepada bangsawan tuan tanah. Dunia mereka sempit dan terbatas. Mereka 
hanya memahami dialek mereka sendiri. Jarang sekali mereka merasa perlu berhubungan dengan 
orang lain di luar daerah mereka. 
Sampai akhir abad ke-10 M, tidak ada selusin kota di seluruh Eropa yang benar-benar memiliki 
kehidupan. Selain itu tidak ada satu kota pun yang berwarga lebih dari 20.00 jiwa. Kondisi 
menyedihkan ini berbanding terbalik dengan kehidupan dunia Islam di timur yang sedang 
mengalami masa keemasannya. 
Baru pada abad ke-11, terjadi pertumbuhan kota dengan kehidupan perdangan yang berkembang. 
Kota-kota utama abad ke11 antara lain Paris di Prancis, Hamburg dan Koln di Jerman, venesia, 
Genoa, Pisa dan Amalfi di Italia. 
Pengaruh Gereja Pada Abad Pertengahan 
Dasar-dasar peradaban abad pertengahan dibangun melalui suatu revolusi politik uni. Hal ini 
berlangsung dari abad ke-5 sampai akhir abad ke-8. warga  Barat yang tidak mampu lagi 
memelihara kerangka pemerintahan yang berpusat di Roma menata diri kembali atas dasar geraja 
Kristen. 
Gereja Roma berkembang menjadi daerah otonom sejak agama Kristen menjadi agama resmi 
kekaisaran Romawi pada tahun 380M. Agama ini merupakan satu lembaga yang kaya serta 
mempunyai pemimpin kharismatik. Organisasi kegerejaan disusun menurut sistem kekaisaran. 
Paus menjadi pemimpin dunia Kristen. Sementara Uskup Agung mengatur daerah semacam 
provinsi dan harus tanggap terhadap situasi. 
Ketika Kekaisaran Romawi runtuh, gereja tidak ikut hancur. Sebaliknya, berkat pengalamannya 
mengatur organisasi, gereja menjadi cakap, mahir dan siap melanjutkan kepemimpinan Eropa. 
Dengan sikap konstruktifnya terhadap warga , gereja akhirnya berhasil membangun 
warga  baru, warga  Kristen. 
Di seluruh Eropa pada masa itu hanya ada satu lembaga gereja. Gereja inilah yang menjadi pusat 
pelayanan sosial, pusat pemberian jaminan bagi orang terancam, dan pengembangan ajaran-ajaran 
Kristen. Jika sesorang tidak dibaptis menjadi warga gereja, maka ia bukan lah anggota warga . 
Apabila seseorang dikucilkan gereja, ia akan kehilangan haknua baik di bidang politik atau hukum. 
Gereja waktu itu sangat kuat pengaruhnya baik dalam kehidupan sosai agama atau kehidupan 
politik. Banyak raja pada abad pertengahan didampingi pejabat tinggi gereja. Seperti Karel Agung 
didampingi Alcuin dan Edward dari Inggris yang didampingi Dunstan. 
Karel Agung raja agung pada Abad Pertengahan Eropa  
Kehidupan pada abad pertengahan diwarnai pengaruh kuat gereja di warga . Oleh sebab  
pengaruh ini, gereja dapat mengikat Eropa menjadi satu kesatuan. warga  abad pertengahan, 
meskipun secara geografis dan politis terpisah satu sama lain dapat dipersatukan oleh satu ikatan 
kuat, yakni iman Kristen. 
Gereja berhasil menciptakan dunia Kristen melampaui batas-batas kerajaan dengan Paus di Roma 
sebagai pusatnya. Kebudayaan dengan segala unsurnya selalu bercirikan agama, termasuk 
kehidupan bernegara, sosial, seni, ilmu pengetahuan , moral dan filsafatnya. Situasi seperti ini 
mencapai puncaknya pada abad ke-13 dengan bersatunya umat Kristen Eropa di Perang Salib. 
Akhir Abad Pertengahan Eropa 
Pembaruan kebudayaan pada abad pertengahan dimulai dengan renaisans dan reformasi yang 
menjadi dasar kebudayaan modern. Pada waktu itu individualitas manusia mulai muncul kembali 
bersamaan dengan bangkitnya gairah terhadap kebudayaan Romawi dan Yunani yang diperoleh 
dari dunia Islam pasca Perang Salib. 
Dengan renaisans kebudayaan mulai diduniakan dan dengan reformasi gereja mulai diawamkan. 
Keduanya melepaskan diri dari ikatan gereja. Mereka pada waktu itu menganggap perubahan tadi 
terjadi sebab  manusia sendiri yang melakukannya, tidak seperti anggapan umum abad 
pertengahan di mana setiap perubahan terjadi sebab  kehendak Tuhan. 
Setelah timbulnya kesadaran akan kemampuan manusia sendiri yaitu akal, maka timbul keraguan 
atas apa yang dinamakan wahyu tuhan. Mereka pun mulai mengkritik kekuasaan tradisi. 
Golongan  humanis ini menganggap abad pertengahan sebagai zaman kebodohan dan kegelapan. 
Ada perbedaan mencolok antara kebudayaan abad pertengahan dan zaman setelahnya. Ini 
membuat para ahli sejarah pada umumnya melihat abad pertengahan bertolak belakang dengan 
abad sesudahnya. Abad pertengahan dinilai sebaga abad keagmaan, sedang abad sesudahnya 
sebagai abad ilmu pengetahuan di mana rasionalitas di atas segalanya. Itulah sebabnya sejak tahun 
1700M, pembagian zaman sejarah Eropa selalu menggunakan triak yang terkenal: zaman kuno, 
abad pertengahan, dan zaman modern.