Perang salib yaitu gabungan koperatif pertama barat baru ketika bangkit dari
zaman kegelapan. Semua kelas yang diwakili para pendeta dan wali gereja serta
bangsawan dan rakyat jelata terbakar oleh kecintaan terhadap yerussalem. Dinamakan
perang salib sebab dalam peperangan ini tentara Kristen memakai salib sebagai
symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa perang ini yaitu perang suci.
Tidak hanya faktor keimanan kekristenan dan mencari kekayaan yang mendorong
tentara salib untuk mengikuti perang, tetapi juga faktor yang mendukunh mereka yang
terlibat dalam peperangan, di antaranya faktor sejarah, faktor agama, faktor politik,
serta faktor sosial-ekonomi.
Perang yang terjadi selama kurang lebih dua abad itu banyak memicu
perbedaan catatan sejarah mengenai terjadinya.
A. pemicu Terjadinya Perang Salib
Perang Salib (1096-1291) terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap
umat Islam di Asia, yang menganggap umat Islam sebagai penyerang di Siria dan Asia
Kecil juga di Spanyol dan Sisilia sejak tahun 632 M. Disebut Perang Salib, sebab
ekspedisi militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk
menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan yaitu perang suci yang
bertujuan untuk membebaskan kota suci Yerussalem (Baitul Maqdis) dari tangan
orang-orang Islam.
pemicu langsung terjadinya Perang Salib yaitu permintaan Kaisar Alexius
Connenus kepada Paus Urbanus II pada tahun 1095. Kaisar dari Bizantium meminta
bantuan dari Romawi sebab daerah-daerah kekuasaanya yang tersebar sampai ke
pesisir Laut Marmora dibinasakan oleh Bani Saljuk. Bahkan, kota Konstantinopel
diancamnya pula. Adanya permintaan ini, Paus melihat kemungkinan untuk
mempersatukan kembali gereja Yunani dengan gereja Romawi yang telah terpecah
tahun 1009-1054.
Isi pidato yang menyulut Perang Salib terjadi pada 26 November 1095 Paus
Urban menyampaikan pidatonya di Clermont, Perancis dan memerintahkan orang-
orang Kristen agar “Memasuki lingkungan Makam Suci, merebutnya dari orang-orang
jahat dan menyerahkanya kembali kepada mereka”. Mungkin, inilah pidato paling
berpengaruh sepanjang catatan sejarah. Orang-rang yang hadir disana meneriakan
slogan Deus Vult (Tuhan menghendaki) sambil mengacungkan tangan. Pada tahun
1097, 150.000 manusia, yang terdiri dari sebagian orang Franka, Norman, dan sebagian
lagi rakyat biasa menyambut seruan untuk berkumpul di Konstantinopel.1
pemicu lain Perang Salib yaitu faktor agama, politik, dan sosial ekonomi.
Fakto-faktor ini merupakan faktor utama yang menyebabkan Perang Salib, yang
dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Faktor Agama
Sejak Dinasti Saljuk merebut Bait al-Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah
pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke
sana. Hal ini terjadi sebab penguasa Saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang
dianggap mempersulit orang Kristen yang akan menjalankan ibadah di Bait al-
Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh sebab
mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang Saljuk yang fanatik. Umat Kristen
mersa diperlakukan para penguasa Dinasti Saljuk sangat berbeda dari penguasa
Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.
2. Faktor Politik
Jatuhnya wilayah kekuasaan Bizantium di Asia Kecil ke tangan Saljuk telah
mendorong Kaisar Alexius I meminta bantuan kepada Paus Urbanus II untuk
mengembalikan wilyah kekuasaanya dari tangan Saljuk. Adanya janji Kaisar
Alexius I untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk
mempersatukan gereja Yunani dan Roma membuat Paus Urbanus II bersedia
membantu Bizantium.
Di sisi lain, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah. Ketika
itu Dinasti Saljuk di Asia Kecil mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir
sedang dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin
goyah. Terjadinya pertentangan antara Khalifah Fatimiyah di Mesir, Khalifah
Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan
dirinya sebagai khalifah semakin memperburuk keadaan.2
3. Faktor Sosial Ekonomi
Para pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Mediterania, terutama
yang berada di kota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai
sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Mediterania
untuk memperluas jaringan perdagangan mereka. Untuk itu, mereka perlu
menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu
sebagai pusat perdagangan mereka bila Kristen Eropa memperoleh kemenangan.
B. Periodesasi Perang Salib
Perang Salib ini berlangsung selama dua ratus tahun dan terbagi dalam tujuh
ekspedisi. Terdapat banyak versi mengenai periodesasi Perang Salib, ada yang
mengatakan periode Perang Salib memiliki tiga, tujuh, delapan, maupun sembilan
periode. Berikut pemakalah akan menjelaskan tujuh periodesasi Perang Salib dan
sekilas menjelaskan tiga periode Perang Salib.
1. Perang Salib Pertama
Perang Salib pertama ini dilancarkan pada tahun 1095 M oleh Paus Urbanus
II untuk menguasai kota suci Yerussalem. Di daerah Anadhul pasukan Salib
bertemu dengan Dinasti Saljuk dan berhasil memusnahkan mayoritas Saljuk dan
kemudian melanjutkan perjalanannya ke perbatasan Anadhul Timur dan Suriah.
Setelah pasukan Salib dipecah menjadi tiga bagian. Bagian pertama, menuju Timur
dan menduduki kota Raha (Edessa) pada tahun 1098 M dan mendirikan Dinasti
Salib di bawah pimpinan Baldwin I. Bagian kedua menuju ke Selatan dan
memasuki Suriah kemudian menduduki Antakia pada tahun 1098 M serta
mendirikan Dinasti Salib di bawah pimpinan Bohemond II. Pasukan Salib
kemudian bergerak menuju Yerussalem, mengepungnya dengan rapat dan
mendudukinya pada tanggal 15 Juli 1099 M. Mereka melakukan pembantaian
terhadap warga kota suci itu, kemudian pasukan salib mendirikan kerajaan salib
yang dipimpin oleh Laoren Godfrey.
2. Perang Salib Kedua
Penguasa Mosul, Imaduddin Zanki, melakukan penyerangan untuk merebut
kota Raha dari tangan kekuasaan kaum salib pada tahun 1144. Untuk itulah, kaum
nasrani lalu melakuan ekspedisi kedua dan penyerangan kembali terhadap
kekuasaan umat Islam dibawah pimpinan Raja Jerman Condrad II dan Raja
Perancis Louis VII. Namun kaum salib kalah dan kembali pulang, mereka gagal
mereut Damaskus setelah mengepungnya.3
3. Perang Salib Ketiga
Setelah perang Hittin berlangsung, Salahuddin al-Ayyubi menyerang Bait al-
Maqdis dengan maksud merebutnya dari tangan kaum salib pada tahun 1188 M.
Selanjutnya muncullah ekspedisi perang salib ketiga yang dipimpin oleh Frederick
Barbarosa I Raja Jerman, Philip August Raja Perancis, dan Richard Raja Inggris.
Raja Jerman melewati jalur Konstantinopel sampai Anadhul, akan tetapi dia
tenggelam saat menyebrangi sungai Kilikia sehingga pasukanya kocar-kacir.
Sementara, Philip August jatuh sakit sehingga ia kembali pulang ke Perancis.
Akhirnya, Raja Richard yang sendirian melakukan perjanjian damai dengan
Salahuddin al-Ayyubi.4
4. Perang Salib Keempat
Pasukan Salib kembali melancarkan penyerangan dengan tujuan untuk
menguasai Mesir pada tahun 598 H/ 1202 M. Penyerangan ini dipimpin oleh
beberapa gubernur Perancis, antara lain: Tabu II(Gubernur Sambani), Baldwin IX
(Gubernur Flanders), Louis (Gubernur Balo) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Para Gubernur itu melakukan perjanjian dengan para pemilik senapan, bahwa
mereka akan dipindahkan ke Iskandariyah. Ketika itu Salahudin mengetahui
perjanjian ini , kemudian memberikan fasilitas lebih kepada para pemilik
senapan itu sehingga para pemimpin salib berpindah ke Konstantinopel. Akhirnya
mereka menguasai kota itu dengan mendirikan dinati Latiniyah dan memilih
Baldwin IX sebagai raja.
5. Perang Salib Kelima
Perang salib kelima ini terjadi pada tahun 615 H/ 1219 M dengan dibawah
komando Raja Baitul Maqdis, Jan De Barman. Mereka kemudian mengarahkan
pasukannya ke wilayah Mesir, dan menguasai kota Dimyat. Akan tetapi, pasukan
salib ini dapat dikalahkan oleh warga oleh Mesir dan Dimyat kembali ke
tangannya, dan akhirnya kaum salib diusir untuk meninggalkan Mesir.
6. Perang Salib Keenam
Pada tahap keenam, pasukan salib menuju ke Suriah melalui jalur laut yang
dipimpin oleh Raja Frederick II dari Jerman pada tahun 625 H/ 1228 M. Al-Kamil
Raja Mesir kemudian meminta bantuan kepada Frederick II agar merebut
Damaskus dari kekuasaan saudaranya, Raja Isa. Syaratnya yaitu al-Kamil
menyerahkan Baitul Maqdis kepada Frederick. Pasukan salib sampai di Akka
ketika Raja Isa telah meninggal dunia dan digantikan anaknya, Raja al-Manshur
Dawud. Ia kemudian berdamai dengan pamannya, al-Kamil dan menyerahkan
Damaskus kepadanya. Akhirnya al-Kamil menduduki Damaskus, Sharkhad,
Syaubik, dan Karak. Kemudian al-Kamil menyerahkan Baitul Maqdis kepada
Frederick II sehingga pasukan salib pun memasuki kota suci al-Quds dan berhasil
menguasainya.
7. Perang Salib Ketujuh
Pada perang salib ketujuh, ekspedisi salib dipimpin oleh Louis IX raja
Perancis bersama-sama dengan orang-orang suci. Dia membawa pasukanya ke arah
Mesir untuk merebut Baitul Maqdis. Melalui pasukan laut yang dikerahkannya ke
Mesir, Louis IX berhasil menguasai Dimyat pada tahun 646 H/ 1249 M. Tetapi
ketika ia berperang melawan Mesir pada masa akhir pemerintahan Raja Saleh
Najmuddin Ayyub dan isterinya Syajar al-Durr, ia malah tertawan bersama dengan
beberapa panglimanya dan warga Mesir menang dalam pertempuran itu. Lalu
terjadi negosiasi dan disepakati Louis IX dilepas dengan tebusan harga yang sangat
mahal.
Para sejarawan memang saling berbeda pendapat dalam menentukan periodesasi
Perang Salib. Philip K. Hitti memandang Perang Salib berlangsung terus-menerus
dengan kelompok yang bervariasi, kadang berskala besar dan terkadang berskala kecil.
Menurut Hitti yang membagi periodesasi Perang Salib dengan menyederhanakan
pembagianya dalam tiga periode.
Periode pertama, disebut periode penaklukan (1096-1144 M.). Adanya hubungan
kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan
semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II di Clermont tanggal 26
November 1095.
Periode kedua, disebut periode reaksi umat Islam (1144-1192 M.). jatuhnya
wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum
Muslimin untuk menghimpun kekuatan dalam menghadapi mereka. Di bawah komando
Imaduddin Zanki, Gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung
serangan pasukan Salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa
pada 1144 M.
Periode ketiga (1193-1291) lebih dikenal dengan periode perang saudara kecil-
kecilan atau periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan sebab
periode ini lebih disemangati oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan
sesuatu yang bersifat material daripada motivasi agama. Dalam periode ini, muncul
pahlawan wanita dari kalangan kaum Muslimin terkenal pemberani, yaitu Syajar al-
Durr. Ia behasil menghancurkan pasukan Raja Louis IX dari Perancis sekaligus
menangkapnya dan kemudian membebaskan dan mengizinkannya kembali ke Perancis.
C. Dampak Perang Salib
Pada saat perang salib berlangsung, bangsa eropa mengambil begitu banyak
manfaat dari khazanah kekayaan timur, khusunya pada sisi pemikiran dan keilmuan.
Sebab, pada saat itu dalam bidang keilmuan dan peradaban, bangsa-bangsa timur jauh
lebih unggul disbanding bangsa eropa. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor
terjadinya renaisans. Berikut ini yaitu beberapa bidang yang mengalami kemajuan
disebabkan persentuhan eropa dengan peradaban islam,
1. Kedoktertan. Pada saat itu, gereja melarang praktik medis sebab keyakinan
mereka bahwa penyakit yaitu sanksi dari tuhan yang tidak boleh dihindari
manusia dan seseorang yang sakit memang layak menerimanya. Di tengah
kebodohan itu, kaum muslim melakukan berbagai terobosan medis, yaitu dengan
menerjemahkan berbagai macam buku induk dalam bidang kedokteran yang
berasal dari Persia, yunani, Hindustan ke dalam bahasa arab. Bukan hanya itu
mereka juga menyusun buku induk sendiri yang tidak pernah tertandingi keluasan
cakupannya dan kerincian kandungannya.
2. Bidang matematika. Jauh sebelum terjadinya renaisans di eropa, kaum muslim
sudah menguasai ilmu matematika, astronomi, kimia, botani, biologi, metalurgi,
dan farmasi dengan sangat baik. Kaum muslim sudah menguasai sangat baik dan
melakukan penerjemahan besar-besaran hamper semua literature ilmiah dari
yunani, romawi, Persia, dan Hindustan dalam bahasa arab.
3. Pertanian dan perdagangan. Eropa mengalami kemajuan yang sangat signifikan.
Kemudian, beberapa penemuan dari orang islam, seperti kompas pelaut dan kincir
angin terus mereka kembangkan. Dalam bidang perdagangan, orang-orang eropa
mendirikan pasar khusus tiruan dari orang islam yang mereka adopsi.
Perang Salib ini merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan, sebab
kekuatan non muslim yang di wilayah Eropa bersatu-padu untuk menghancurkan dan
meluluhlantakan kerajaan-kerajaan Islam pada masa itu. Sementara umat Islam sendiri
sedang mengalami konflik internal, memperebutkan kekuasaan dan bahkan saling
membunuh antar sesamanya. Baitul Maqdis di Yerussalem menjadi sasaran utama dalam
perang salib ini. Mengingat keduanya yakni kaum Muslimin dan nasrani sama-sama
mengklaim sebagai kota suci mereka.
Dalam peristiwa Perang Salib ini , masing-masing yang telibat kaum
Muslimin dan nasrani mengalami pasang-surut dan saling bergantian dalam hal
kemenangannya.
Abad pertengahan menunjuk pada periode dalam sejarah Eropa, antara zaman Eropa kuno dan
zaman modern. Keruntuhan Kekaisaran Romawi pada tahun 470 M. Dianggap sebagai awal
periode sejarah ini, sedang masa renaisans dianggap sebagai akhirnya.
Abad pertengahan sendiri dibagi menjadi tiga tahap: tahap awal atau sering disebut abad
kegelapan, tahap perkembangan, dan tahap akhir. Istilah abad pertengahan awalnya digunakan
oleh kaum humanis pada akhir abad ke-15 M untuk menyebut periode antara zaman kebudayaan
klasik hellenis/Yunani dan zaman kebangkitan kembali kebudayaan itu.
Kondisi Eropa pada Abad Pertengahan
ilustrasi warga Eropa abad pertengahan
Sejak Kekaisaran Romawi mengalami kemunduran dan keruntuhan, tidak ada imperium Eropa
yang dapat mengisi kekosongan kekuasaan politik tersebut. Raja dan dinasti silih berganti berkuasa
antara lain dinasti Meroving, Frankia, Kapet, Otto dan Hohenstaufen. Namun, kekuasaan mereka
pada umumnya tidak berlangsung lama. Di antara para penguasa itu, hanya Karel Agung atau
Charlemagne dari Frankia yang memerintah cukup lama dan baik. Ia berhasil melebur daerah-
daerah yang luas di Eropa menjadi satu imperium yang kokoh.
Meskipun demikian, tidak dapat dinafikan pada abad pertengahan kota-kota Eropa mengalami
kehancuran. Kota-kota itu menjadi tidak aman sebab menjadi sasaran penyerbuan, perampokan,
pemerkosaan, dan pembunuhan. Akibatnya, warga kota terpaksa meninggalkan rumah dan
memencar ke wilayah pedalaman.
Di pedalaman mereka bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kota Roma, kota terbesar di
Barat dengan warga hampir satu juta jiwa, bahkan berubah menjadi kota sepi yang
berwarga hanya beberapa ribu jiwa. Sementara kehidupan mereka cukup memprihatinkan.
Pada masa itu berkembang sistem feodalisme dengan pertanian sebagai pusat kehidupan.
warga hidup dalam berbagai kelompok, yakni bangsawan sebagai tuan tanah, orang bebas
yang menjadi golongan ksatria pengabdi bangsawan, dan petani yang hidup memprihatinkan dan
bergantung pada bangsawan.
warga zaman pertengahan pada umumnya tidak mengenal pemerintah pusat. Mereka hanya
bertanggung jawab kepada bangsawan tuan tanah. Dunia mereka sempit dan terbatas. Mereka
hanya memahami dialek mereka sendiri. Jarang sekali mereka merasa perlu berhubungan dengan
orang lain di luar daerah mereka.
Sampai akhir abad ke-10 M, tidak ada selusin kota di seluruh Eropa yang benar-benar memiliki
kehidupan. Selain itu tidak ada satu kota pun yang berwarga lebih dari 20.00 jiwa. Kondisi
menyedihkan ini berbanding terbalik dengan kehidupan dunia Islam di timur yang sedang
mengalami masa keemasannya.
Baru pada abad ke-11, terjadi pertumbuhan kota dengan kehidupan perdangan yang berkembang.
Kota-kota utama abad ke11 antara lain Paris di Prancis, Hamburg dan Koln di Jerman, venesia,
Genoa, Pisa dan Amalfi di Italia.
Pengaruh Gereja Pada Abad Pertengahan
Dasar-dasar peradaban abad pertengahan dibangun melalui suatu revolusi politik uni. Hal ini
berlangsung dari abad ke-5 sampai akhir abad ke-8. warga Barat yang tidak mampu lagi
memelihara kerangka pemerintahan yang berpusat di Roma menata diri kembali atas dasar geraja
Kristen.
Gereja Roma berkembang menjadi daerah otonom sejak agama Kristen menjadi agama resmi
kekaisaran Romawi pada tahun 380M. Agama ini merupakan satu lembaga yang kaya serta
mempunyai pemimpin kharismatik. Organisasi kegerejaan disusun menurut sistem kekaisaran.
Paus menjadi pemimpin dunia Kristen. Sementara Uskup Agung mengatur daerah semacam
provinsi dan harus tanggap terhadap situasi.
Ketika Kekaisaran Romawi runtuh, gereja tidak ikut hancur. Sebaliknya, berkat pengalamannya
mengatur organisasi, gereja menjadi cakap, mahir dan siap melanjutkan kepemimpinan Eropa.
Dengan sikap konstruktifnya terhadap warga , gereja akhirnya berhasil membangun
warga baru, warga Kristen.
Di seluruh Eropa pada masa itu hanya ada satu lembaga gereja. Gereja inilah yang menjadi pusat
pelayanan sosial, pusat pemberian jaminan bagi orang terancam, dan pengembangan ajaran-ajaran
Kristen. Jika sesorang tidak dibaptis menjadi warga gereja, maka ia bukan lah anggota warga .
Apabila seseorang dikucilkan gereja, ia akan kehilangan haknua baik di bidang politik atau hukum.
Gereja waktu itu sangat kuat pengaruhnya baik dalam kehidupan sosai agama atau kehidupan
politik. Banyak raja pada abad pertengahan didampingi pejabat tinggi gereja. Seperti Karel Agung
didampingi Alcuin dan Edward dari Inggris yang didampingi Dunstan.
Karel Agung raja agung pada Abad Pertengahan Eropa
Kehidupan pada abad pertengahan diwarnai pengaruh kuat gereja di warga . Oleh sebab
pengaruh ini, gereja dapat mengikat Eropa menjadi satu kesatuan. warga abad pertengahan,
meskipun secara geografis dan politis terpisah satu sama lain dapat dipersatukan oleh satu ikatan
kuat, yakni iman Kristen.
Gereja berhasil menciptakan dunia Kristen melampaui batas-batas kerajaan dengan Paus di Roma
sebagai pusatnya. Kebudayaan dengan segala unsurnya selalu bercirikan agama, termasuk
kehidupan bernegara, sosial, seni, ilmu pengetahuan , moral dan filsafatnya. Situasi seperti ini
mencapai puncaknya pada abad ke-13 dengan bersatunya umat Kristen Eropa di Perang Salib.
Akhir Abad Pertengahan Eropa
Pembaruan kebudayaan pada abad pertengahan dimulai dengan renaisans dan reformasi yang
menjadi dasar kebudayaan modern. Pada waktu itu individualitas manusia mulai muncul kembali
bersamaan dengan bangkitnya gairah terhadap kebudayaan Romawi dan Yunani yang diperoleh
dari dunia Islam pasca Perang Salib.
Dengan renaisans kebudayaan mulai diduniakan dan dengan reformasi gereja mulai diawamkan.
Keduanya melepaskan diri dari ikatan gereja. Mereka pada waktu itu menganggap perubahan tadi
terjadi sebab manusia sendiri yang melakukannya, tidak seperti anggapan umum abad
pertengahan di mana setiap perubahan terjadi sebab kehendak Tuhan.
Setelah timbulnya kesadaran akan kemampuan manusia sendiri yaitu akal, maka timbul keraguan
atas apa yang dinamakan wahyu tuhan. Mereka pun mulai mengkritik kekuasaan tradisi.
Golongan humanis ini menganggap abad pertengahan sebagai zaman kebodohan dan kegelapan.
Ada perbedaan mencolok antara kebudayaan abad pertengahan dan zaman setelahnya. Ini
membuat para ahli sejarah pada umumnya melihat abad pertengahan bertolak belakang dengan
abad sesudahnya. Abad pertengahan dinilai sebaga abad keagmaan, sedang abad sesudahnya
sebagai abad ilmu pengetahuan di mana rasionalitas di atas segalanya. Itulah sebabnya sejak tahun
1700M, pembagian zaman sejarah Eropa selalu menggunakan triak yang terkenal: zaman kuno,
abad pertengahan, dan zaman modern.